“Kak, bisa jadi pemateri hari ini untuk kajian
LDF?” Tanya seorang gadis dibalik Handphone.
“Materinya apa?” Aku memang selektif ketika
diminta untuk jadi pemateri. Bukan karena pilih-pilih. Tapi lebih kepada
menyadari kapasitas ilmu yang kupunya terbatas.
“Sinergi antara organisasi dan akademik,
bisa kak?” Sedikit terdiam lama. Apa memang pantas diri ini menjadi sumber
inspirasi berbagi kepada adik-adik mahasiswa. Tak lama aku menolak tawarannya.
“Ayolah
kak... Tolong kami. Ana yakin kak orang yang tepat” Gadis itu merayuku, dan
akhirnya kuindahkan kemauannya. Demi Dakwah ilallah. Apalagi setelah disebut-sebut
ini kajian perdana. Aku tentu sedikit kalang kabut. Sebab agenda pertama
menjadi penentu, berhasil atau tidaknya syiar LDF.
Berkas-berkas sinar sore menyirami tubuhku
yang berjalan tergesa-gesa menuju tempat kegiatan. Kulihat para aktivis yang
kusebut mereka mutsaqqoful fikri sedang sibuk mengatur tempat dan mempersiapkan
segala hal yang diperlukan. Mereka memboyong adik-adik mahasiswa baru yang
jumlahnya tak sedikit untuk ikut mendengarkan materi kajian. Mereka pion-pion
dakwah yang mengibarkan panji peradaban berbasis islam di kampus merah maron.
Ya, kader-kader Lembaga Dakwah Kampus yang membuatku bangga dengan seabrek
aktivitas kuliah dan organisasi yang seiring sejalan.
![]() |
| Saat diminta panitia jadi pemateri "Sinergi Organisasi dan Akademik" |
Tiba saatnya moderator mempersilakan
aku untuk bicara. Kutatap puluhan pasang mata tajam yang menghujam kearahku.
Sambil mengulas senyum, aku mengeluarkan sebuah fakta yang membuat para peserta
kajian tercengang. Mungkin tak percaya. Tapi menerima respon demikian, aku
justru merasa senang. Karena begitulah trik untuk meraup perhatian para
peserta. Menyuguhkan hal yang kontroversi untuk mengikat konsentrasi mereka
terhadap materi yang dikemas lebih menarik.
“Hari ini saya disodorkan materi oleh panitia
tentang sinergi antara organisasi dan akademik. Kalian tahu, dulu saat saya
menjadi mahasiswa, saya pernah beberapa kali meraih nilai C”, Suara mahasiswa
terdengar gaduh keheranan, “dua kali dapat D”, suara mereka semakin nyaring,
yang jelas bukan rasa takjub, “dua kali dapat E (Error)” serentak semua suara
bergemuruh. Mungkin sangat kaget. Aku hanya tersenyum menang. Nampak mereka
semakin tinggi rasa penasarannya. Aku bisa membaca apa yang mereka pikirkan. Bagaimana
mungkin seorang pemateri yang kuliahnya bahkan hampir hancur, saat ini dengan
percaya diri menyuguhkan tips sinergi antara organisasi dan akademik?
***
Itulah selayang pandang kisah saya setahun
yang lalu. Saya mulai tertarik menulis ini kembali saat beberapa hari yang lalu
bertemu teman-teman aktivis di sebuah agenda. Saat perjumpaan itu, tanpa sadar
saya menanyakan hal yang membuat mereka membalas dengan senyum mesra. Spontan
sikapnya nampak kikuk dan saya bisa menebak bahasa tubuh itu.
Ya, MAPALA, Mahasiswa Paling Lama. Sebuah gelar
tambahan yang disematkan pada beberapa mahasiswa utamanya aktivis organisasi.
Mungkin jika tak memiliki kesadaran tanggungjawab, saya merupakan bagian dari
deretan penyandang gelar itu. Sebab saya juga merasakan betapa sulitnya menyeimbangkan
antara kuliah dan organisasi. Sejak awal masuk kuliah saya telah memilih untuk
masuk dalam sebuah organisasi yang disebut LDK SKI UNG, Lembaga dakwah yang
aktif berkiprah dengan segudang agenda yang padat di kampus. Di LDK saya
diberikan amanah mengurus Lembaga Dakwah Fakultas. Selain itu, terlibat aktif
sebagai pengurus Math and Science Club (MSC) fakultas MIPA. Di akhir semester
dinobatkan pula menjadi Asisten Laboratorium Matematika. Di luar kampus, saya
terlibat menjadi sekretaris remaja muda mesjid besar Al-Mutaqaddir, yang hampir
tiap hari selalu punya kegiatan positif.
Tidak hanya berorganisasi, saat kuliah saya
cukup menyadari bahwa ilmu yang kita timba di ruang kuliah hanya akan tetap
bersifat baku dan pasif jika tak ada wadah yang menampungnya dan menggerakan.
Hingga semester lima saya putuskan mencuri start
duluan dari teman-teman mahasiswa untuk mengasah kemampuan mengajar. Saya
memberanikan diri pergi ke sebuah lembaga, sendiri, dan menawarkan diri untuk
jadi pengajar. Dan akhirnya saya pun diterima. Sejak saat itu saya mulai
mengajar tidak hanya dilembaga tapi juga sebagai guru privat. Untuk mengasah
kemampuan entrepreneur, saya dan teman-teman bekerjasama pula membuat kripik yang
kemudian kami jual di kelas sambil kuliah.
Waktu saya tersita cukup banyak
dengan seabrek kegiatan di kampus dan di luar kampus. Benar-benar melelahkan.
Dan pulang hingga larut malam itu sudah menjadi kebiasaan. Bahkan saya pernah
tepergok ibu pulang hampir jam 12 malam. Akibat lengah terhadap aktivitas yang
tak seimbang, akademik saya sedikit keteteran. Pantas saja, jika lulus kuliah
tak tepat waktu sempat membayang dalam pikiran. Mendapat ancaman dari orang tua
adalah hal yang wajar. Menyadari hal ini, ibu menyuruh saya untuk fokus kuliah
dan meninggalkan organisasi. Tapi saya justru menantang ibu.
“Saya akan pilih organisasi dan kuliah. Dan
memastikan keduanya akan seiring sejalan” Ibu menerima tantangan itu dan
memberi ultimatun berupa sanksi yang cukup keras jika seandainya pilihan saya
keliru.
Sejak saat itu saya mulai berpikir.
Saya kader dakwah, mengajak orang pada ajaran-Nya, untuk mengimani-Nya, untuk
menjalankan Sunnah Rasul-Nya. Sudah pasti akan menjadi panutan, baik keluarga
atau orang lain. Bagaimana mungkin orang akan ikut ajakan kebaikan, jika
mengurus kuliah saja tak beres.
Akhirnya saya mulai menata waktu
sebaik mungkin. Dan membuat target-target wisuda. “Saya aktivis harus lulus
kuliah tepat waktu 4 tahun, dengan IPK di atas 3,50 dan masuk 10 besar terbaik
di jurusan pendidikan matematika”.
Puncak perjuangan itu terjadi ketika
saya harus mengontrak 6 mata kuliah ditambah skripsi matematika murni dengan
syarat semuanya harus lulus dengan nilai ‘A’ untuk mencapai target wisuda.
Pontang-panting saya harus berjibaku untuk mengatur waktu. Dan bersyukur kerja
keras itu menuai hasil. Target itupun tercapai.
Berikut tips saya untuk mahasiswa
yang mau menyeimbangkan waktu antara kuliah, kerja dan organisasi.
1. Niatkan semua untuk ibadah
Segala hal yang kita lakukan
selalu bersinggungan dengan waktu. Dan itu pasti. Maka sudah semestinya kita
menyandingkan semua aktivitas untuk ibadah kepada sang Pengendali waktu, Allah
swt. Artinya kita harus bertanggungjawab penuh terhadap kuliah untuk menunaikan
kewajiban pada orang tua. Sebab menyenangkan orang tua termasuk ibadah. Dan
pilihlah organisasi yang membentuk karakter menjadi pribadi yang lebih baik.
Bukan hanya agenda-agenda positifnya yang menjadi bahan seleksi kita, tapi
kawan-kawan yang terjun kedalamnya juga akan membentukan pola pikir dan
kepribadian. Oke, organisasi itu digerakan oleh orang-orang cerdas, aktif
bahkan mungkin populer. Program-programnya juga padat terhadap ilmu-ilmu yang
bermanfaat. Tapi jika saat adzan berkumandang masih asyik bereuforia dengan
aktivitasnya dan tak segera beranjak ke mesjid untuk shalat, sama saja
organisasi itu isinya kosong melompong dari ajaran kebaikan. Akhirnya kita jadi
ikut-ikutan meninggalkan shalat. Kecuali yang imannya cukup kuat.
2. Tawarkan diri menjadi ketua kelas atau
ketua kelompok
Ini wajib untuk teman-teman
aktivis yang super sibuk. Ketua tingkat akan lebih sering berhubungan dengan
dosen-dosen pengajar dan ketua jurusan. Ini akan menjadi kesempatan baik agar
nama kita lebih dikenal. Kita lebih punya kesempatan untuk meringankan sedikit
tugas dosen mengatur mahasiswa, mata kuliahnya dan menyenangkan mereka. Ketua
tingkat tak jarang disuruh untuk mengurus ini dan itu. Konon, meski kita tak
telalu cerdas, tapi indeks pendekatan bisa menjadi penentu kita lulus kuliah
dengan mulus. Hal ini juga akan mengasah kepemimpinan dan membuka peluang
jaringan informasi beasiswa. Sebab, jika ada informasi dari jurusan, ketua
kelas pasti yang dihubungi lebih dulu.
Kita juga patut menawarkan
diri menjadi ketua kelompok. Sebab tanggungjawab ini bisa menjadi motivasi
untuk lebih peduli pada mata kuliah. Mau tidak mau, sibuk atau tidak sibuk,
kita tetap harus menjadi orang yang diandalkan untuk mengerjakan tugas dengan
sebaik mungkin. Alam bawah sadar kita akan merespon itu sehingga kita terdorong
untuk mengatur waktu sebaik mungkin.
3. Luangkan waktu membaca materi yang akan
diajarkan sebelum dosen masuk kelas
Cukup satu jam, luangkan
jatah waktu untuk membaca materi yang akan diajarkan dosen sebelum masuk kelas.
Jika kita sibuk, tas kita wajib terisi dengan buku-buku kuliah. Untuk perempuan
jangan hanya bedak, cermin mini, lipstik, dan parfum. Agar setiap ada jeda 15
menit saat sedang mengurus kegiatan, kita bisa mengisi waktu luang untuk
membaca materi selembar atau satu halaman saja. Dan ingat, catat jika tiba-tiba
muncul pertanyaan dibenak atau hal-hal yang tak dimengerti. Ini bisa jadi modal
kita buat pasang wajah di depan kelas nantinya. (hehehe)
4. Usahakan aktif bertanya dikelas saat kuliah
Yang perlu diketahui,
kebanyakan para mahasiswa acuh jika ada hal yang tak dimengerti saat kuliah.
Atau mungkin karena memang takut untuk bertanya. Takut ditertawakan atau
pertanyaannya nanti tidak berbobot sehingga akan jelas terlihat bodoh. Padahal
untuk para aktivis itu adalah kesempatan bagus untuk mendongkrak mata kuliah.
Sebab sebagian besar dosen senang terhadap umpan balik yang dilempar para
mahasiswa di kelas. Entah itu bertanya, menanggapi atau menjawab. Dosen akan
merasa bahwa cara mengajar atau apa yang diajarkannya menarik. Tanpa sadar
wajah dan nama kita akan mudah dikenali dosen pengajar.
5. Duduk paling depan
Saat dosen mulai duduk di
depan kelas, matanya akan menangkap wajah kita pertama kali. Sehingga bayangan
wajah kita akan terpahat dikepalanya. Ini adalah awal yang bagus mencuri
perhatian dosen. Maka duduklah dibagian paling depan. Dengan tubuh sigap dan
kaki merapat. Jangan duduk membungkuk atau tangan bertopang dagu apalagi kaki
mengangkang. Ini mengesankan kamu tak sopan. Ingat, Posisi duduk menentukan
prestasi. Pandangan dan telinga kita akan lebih fokus menyimak penjelasan dosen
satu-persatu.
6. Punya catatan sendiri
Sebaik-baik catatan teman,
masih lebih baik catatan sendiri. Meskipun liukannya tak jelas bahkan lebih
parah dari jejek-jejak kaki kucing di lumpur atau bekas cakar ayam di tanah. (hehehe)
Sebuah penelitian membutikan
bahwa catatan yang ditulis pakai tangan akan lebih membekas dalam ingatan dalam
jangka waktu yang lama daripada yang menulis menggunakan laptop. Nah, bagaimana
jika kita tak menulis sama sekali? atau menyalin punya teman, boleh jadi kita
akan paham karena sama-sama menulis pakai tangan meski selang waktunya berbeda.
Tapi apakah mungkin masih punya cukup waktu menulis? Kebanyakan kita memilih
cara instan menggunakan mesin fotocopy. Dan belum tentu kita akan mudah
memahami catatan teman. Oke, jika kita tergolong cerdas, tapi tak mungkin
seratus persen otak kita mampu menampung semua penjelasan dosen di kepala.
Otak kita punya memori jangka
panjang dan jangka pendek. Ada yang berhasil diubah menjadi ingatan permanen,
tapi ada yang dibuang sehingga kita menjadi lupa.
7. Buat daftar agenda setiap Hari
Tidak perlu terlalu banyak menulis
daftar agenda dan membuat kita semakin stres. Cukup yang penting dan membawa
dampak yang besar sehingga kita puas dapat mengerjakan semua agenda dengan rapi
dan lancar. Atur skala prioritas pada setiap agenda. Yang harus selesai hari
ini dan bisa ditunda sampai besok. Jadi saat kita sedang mengerjakan satu
agenda, kita bisa melupakan agenda yang lain dan lebih fokus. Sebab semuanya
sudah ada dalam ‘to do list’ buku agenda.
Satu hal yang harus kita
ingat, kebaikan dan keburukan itu berantai. Satu kebaikan akan diikuti oleh
kebaikan yang lain. Dan satu keburukan akan diikuti oleh keburukan yang lain.
Jadi setiap hari saya selalu menuliskan agenda harian yang berkiblat pada lima
waktu shalat wajib. Misalnya, setelah shalat shubuh, agenda-agenda apa saja
yang harus saya lakukan. Selanjutnya begitu juga dengan dzuhur, ashar, maghrib
dan isya.
8. Perhatikan porsi waktu
Setiap
melakukan aktivitas, baik hal kecil atau besar, melakukan perjalanan dan
lain-lain, jangan lupa memperhatikan berapa porsi waktu yang kita habiskan
selama mengerjakan aktivitas itu. Ini cukup untuk memudahkan kita memetakan
agenda sesuai porsi waktu yang dibutuhkan.
9. Tegas dan cerdas menentukan pilihan
Ada kondisi kita harus
terdesak dan serba salah. Memilih hal yang cukup sulit. Misalnya saat ini kita
punya jadwal mengajar di tempat kerja, tapi disaat yang sama kita juga harus
menghadiri suatu agenda sebuah organisasi yang kita geluti. Apalagi ketika menduduki
posisi penting sebagai ketua. Tentu ini cukup menyulitkan. Namun kuncinya
adalah bangun komunikasi yang baik dengan pimpinan kerja dan teman-teman
organisasi. Jika kita telah lebih dulu melakukan perjanjian kontrak ngajar di
tempat kerja, sebenarnya mereka lebih punya hak atas diri kita. Sehingga hal
ini harus lebih dulu ditunaikan. Kita boleh menolak menghadiri agenda kedua
dengan menawarkan solusi untuk mencari orang yang menggantikan tugas kita. Atau
jika bisa dinegosiasikan dengan pimpinan kerja, mungkin bisa segera dibicarakan
baik-baik ketidaksiapan sehingga pimpinan bisa mencari pengganti saat itu.
10. Berdoa
Sering-seringlah berdoa agar
segala urusan dimudahkan. Karena yang menggenggam waktu adalah Dia Yang Maha
Kuasa. Dan Sebaik-baik rencana, masih lebih baik rencana Allah.
Nah, itu sedikit tips dari saya untuk teman-teman
mahasiswa aktivis agar organisasi,
akademik dan kerja bisa bersinergi indah. Ini tentu masih terlalu miskin.
Diluar sana masih banyak yang lebih baik mengurainya dibandingkan saya. Tapi
berbagi itu bertambah. Maka saya bermaksud menambah hal-hal sedikit yang ada di
dalam diri saya. Sekian dan semoga bermanfaat.









4 komentar:
Allahu akbar !!!
Mutu suka gayaa Pinoooo.....
Marveoulus :-*
Sukses slu yaa sayaang..
You are the one of my inspiration....
masih berantakan ukhti, diksinya tdk seindah punya muti... hehe tulisan muti slalu jd tolak ukur ana :)
MasyaAllah bagus sekali.. menginspirasi sya 6g masih awam dan keteteran mengelola waktu .. jazkillah kak yolpin.. izin shre boleh kah?
silakan mba :)
Posting Komentar