RSS

Kegagalan Terindah

Bruuuuuk.......!!! Suara itu begitu nyaring dan tajam. Bunyi yang berhasil... menyerap semua tatapan di sekitar
Beberapa pasang mata tiba-tiba serempak mencorong pada satu sudut. Ada yang tiba-tiba terpaksa menekan lidah saat berbicara. Lantas tanpa diperintah memalingkan wajah seketika. Beberapa orang tak mampu bertahan dengan nikmatnya buku yang khusyuk dibaca.Telinganya seperti menyedot deras suara dentuman yang keras. Langkah-langkah kaki yang gemulai seolah tertahan. Berubah haluan dan menuju tempat itu. Semua hati dan kepala orang-orang di sekitar sepertinya penuh tanda tanya besar. Sebuah balok berkaki empat yang terbuat dari kayu terpental ke bawah dengan sangat kuat dan hampir menumbuk kaki Tia yang berselimut sepatu usang. Beruntung ia mampu menghindar dari serangan meja itu. Meski tanpa sadar dua buah buku dan polpen dalam genggamannya berhasil lolos dan jatuh di lantai.

Seketika matanya terbelalak memandang sepasang mata yang sangar dan mengerucut. Mulutpun menganga, kaget oleh reaksi yang mengerikan.Di hadapan Tia, nampak gadis sebaya yang ingin sekali melahapnya mentah-mentah. Gigi dengan taring yang indah dan rapat, kini seperti digertak geram. Nafas itu naik turun. Tak lama setelah hening, dengan aura yang cukup panas, untaian kata-kata pedas dari gadis itu pun keluar.

“Dasar boodoh, pemalas, begitu saja tidak bisa kerja sendiri.Kamu enak-enakan nyalin, saya yang susah cari jawaban tugas itu. Kamu enak-enakan tidur, bermain, dan saya korbankan waktu saya untuk tugas itu. Tidak bisa ya usaha sendiri” Kata-kata itu begitu lantang dan menjelma menjadi ribuan jarum yang menembus dada. Menohok, sangat sakit, dan tak tertahan perihnya. Jiwanya didera perasaan malu oleh beberapa pasang mata beraneka ragam makna. Jangankan seribu bahasa, satu kata bahkan sulit terlontar. Meskipun hanya untuk mempersembahkan empat huruf saja “M_A_A_F”.

Wajah gadis yang merah padam di depannya menunujukan pemberontakan jiwa. Sementara rona muka tia berubah putih, pucat dan nampak tak normal. Keringat dingin, malu, sedih, kecewa, itulah yang ia rasa. Hatinya Jatuh berkeping-keping seperti pecahan beling setelah dihentak dengan pukulan yang keras. Tak lama kakinya diseret kebelakang. Dua, tiga langkah pelan, hingga akhirnya tubuh itu berputar180 derajat dan berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu,serta membawa sebuah nama dengan segala kesal di hati.

“Ani, Apriliani Dita” gadis itu yang oleh teman-teman sekelas sering dielu-elukan sebagai siswa berprestasi. Berhasil meraup posisi juara ketiga di kelas saat semester satu di kelas 1 SMP terfavorit yang kini telah bertaraf nasional. Menjadi tempat bertanya bahkan sumber untuk mencari jawaban tugas. Sering menjadi perhatian guru,bahkan tak jarang di andalkan. Saat pembagian kelompok belajar, menjadi rebutan para siswa hanya untuk menobatkannya menjadi ketua kelompok. Selalu menjadi tutor yang disegani. Teman-temannya bukanlah anak bodoh bin tolol seperti Tia. Kerjanya menyontek tugas. Pantas saja tak pernah masuk dalam daftar siswa yang menjadi buah bibir para siswa dan guru seantero sekolah saat pengumuman kejuaraan. Apalagi menjadi gosip kebanggaan para orang tua di sekolah ataupun tetangga yang anaknya bersekolah di sekolah yang sama.

Tia hanyalah anak yang hobi mencari teman bermain sepanjang waktu. Tak jarang mendapat teguran para guru. Di kelas, sering duduk paling belakang dan tidur sesukanya. Berani corat-coret meja saat guru sedang mengajar. Parahnya saat kelas 5 SD, pernah di undang ke ruang kepala sekolah bersama teman-temannya karena kedapatan memanjat jendela ruang kelas yang berlubang dan tingginya dua meter dari dasar tanah. Pernah pula menantang berkelahi anak perempuan yang bengis.

Tia sangat pesimis. Ia merasa dirinya yang paling bodoh di kelas. Ia tak sanggup memahami mata pelajaran dengan baik terutama eksakta. Namun kata-kata Ani seolah menampar harga dirinya. Hatinya panas. Semangatnya ikut membara. Akhirnya kemudian ia pun bertekad.

“Kalau kamu BISA, saya pasti lebih BISA”. Setelah kejadian itu, Tia mulai memperbaiki kualitas belajarnya. Saat semester dua, ia berusaha duduk paling depan. Tia memperhatikan dengan seksama setiap arahan dan penjelasan setiap guru. Ia mencatat dan menjadi giat dalam belajar.

Tak perlu ditanya reaksi teman-temannya, mereka bahkan heran ketika Tia menolak diajak bermain. Sebab Tia punya azzam yang harus ia buktikan pada Ani bahwa dirinya juga bisa jadi yang terbaik bilaia mau. Bahkan jika harus mengalahkan ani, menjadi jawara di kelas. Ia tak ingin jadi juara tertinggal lagi.
Tia yakin, gelar bodoh itu ada karena malas yang dipelihara. Bukan pula karena tidak tahu, tapi karena ia tidak mau. Tak mau berusaha dan mencapai hal terbaik seperti mereka para pemenang.

Setiap hari Tia bangun lebih pagi, shalat shubuh hingga semangatnya meninggi. Pulang sekolah, tak peduli lagi berapa banyak angka dari jam dinding di rumahnya yang ia lewati untuk berkutat bersama buku. Tak jarang, air matanya ingin menetes karena menahan lelah dengan segala kesakitan yang berlapis-lapis dan rasa ngantuk yang terus membius. Berbulan-bulan ia terus berjuang.

Akhirnya ujian semester berlalu, dan pengumuman kejuaraan tiba. Ditengah kerumunan ratusan siswa dan orang tua yang turut hadir. Dibacakan nama-nama peraih juara satu, dua dan tiga pada setiap kelas. Hingga sejurus kemudian giliran kelas Tia. Juara satu, lewat mikrofon ditangan, wali kelas hendak menyebut sebuah nama. Pelan-pelan jantungnya mulai berdetak kuat. Satu huruf melengking,
“T….” dan disusul huruf-huruf lainnya “Tika Pratiwi”. Tia mulai lesu dan kembali was-was saat juara kedua hendak lepas dari bibir berlapis lipstik merah merona. Dan ternyata namanya tak disebut.
“Terakhir, juara ketiga adalah…” Tia tertunduk, dan terduduk lemas. Denyut nadinya semakin keras. Nafasnya terasa sesak. Jantungnya ikut berdetak sangat cepat dari biasanya. Perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. keringat dingin mengucur. Padahal ia dari tadi hanya mematung di tempat. Sepertinya teori biologi tentang pembakaran sari-sari makanan sedang bekerja dalam tubuhnya.Dan kemudian memproduksi urine yang berlimpah. Hingga menekan hebat dinding-dinding kantung kemih. Ia ingin buang air kecil. Ada keringat yang mulai membasahi tepian jilbabnya. Gamang tak tenang. Ia takut kerja kerasnya sia-sia. Tak lama, tibalah sebuah nama di sebut dan nama itu tak asing lagi. Nama yang sangat dikenal oleh guru wali kelasnya, teman-temannya bahkan ia sendiri. Sontak semua tatapan serempak menuju satu titik. Titik dari sebatang tubuh yang tak bergeming. Semua mata menyala penuh kekaguman.
“Apriliani Dita”Tia merasakan kabut dimatanya. Rasa sakit serta perih justru semakin terasa, saat Ani memasuki aula dengan senyum sumringah. Naik di atas panggung dan mendapat penghargaan atas prestasi kejuaraan itu. Ia hampir tak bisa terima. Namun sejenak kemudian berusaha mengendalikan emosinya sekuat mungkin. Gurat wajah kecewa, tak boleh diketahui teman-temannya. Selama ini ia belajar mati-matian demi mengalahkan ani, namun teman-temannya tak menyadari itu. Ia memang sengaja menutup rapat-rapat kekesalan , dengan diam-diam lebih rajin mengulang pelajaran di rumah usai pulang sekolah.

“Tak boleh menangis. Tahan Tia. Tahan. Air mataku tak boleh jatuh karena kalah. Teman-teman tak boleh melihatku sesedih ini,” Seloroh hatinya.

Padahal wajahnya sudah mulai memerah. Panas, Dingin naik turun tak jelas. Ia terpaku lama ditempat duduknya. Merefleksi kembali niat yang salah selama ini. Ia sadar keinginannya untuk menang dan mengalahkan yang lain adalah ambisi yang berpaku pada hasil dan bukan proses. Hingga ia mudah takut, merasa gagal, kecewa dan semuanya sia-sia. Padahal kegagalan terindah, adalah saat kita tak pernah menyerah. Seperti alfa Edison yang ketika ditanya berapa kali iagagal, namun malah menjawab,

“Tidak sekalipun aku merasa gagal. Aku hanya mengalami proses yang sulit dua ribu kali”. Paling tidak Tia merasa telah menang, karena berhasil mengalahkan diri sendiri, dari rasa malas untuk belajar. Kadang kala, hinaan teman, bisa menjadi tantangan yang membangkitkan kekuatan.

Tiba-tiba, lamunannya buyar ketika Master Of Ceremony mengumumkan lima besar terbaik dari seluruh kelas satu.
“Terbaik pertama Tika Pratiwi. Kedua Rival Dika. Ketiga Sinta Lamusu, dan ke empat Apriliani Dita. Serta terbaik kelima Tia Prasiska. Untuk itu kepada lima terbaik silahkan maju ke podium untuk menerima penghargaan dari bapak kepala sekolah”

Semua mata tak percaya mencorong kearah Tia. Beberapa teman terperangah kaget. Yang lain ikut takjub dan terpana. Tia sendiri dengan kaki gemetar berjalan di atas karpet menyusul empat orang teman memasuki ruang aula. Seperti mimpi, air matanya tanpa sadar menetes. Ternyata, jika berusaha sebaik mungkin, ia juga mampu bersaing menjadi pemenang. Maka nikmat Allah mana lagi yang harus ia dustakan.
“Nilai atau IPK (Indeks prestasi kumulatif) bukan sepenuhnya menjadi tolak ukur kemampuan seseorang. Nilai atau IPK hanyalah penghargaan atas dedikasi dan usaha seseorang” (YOLPIN DURAHIM)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar