RSS

Sepenggal Bab I

Mata pemuda itu jelalatan. Sesekali tatapannya tajam ke depan. Sesekali pula ia menengok ke belakang. Wajahnya semakin putih bertabur gerimis tipis. Semilir angin menambah sengatan dingin menembus kulit. Tubuhnya sedikit menggigil. Pekatnya malam semakin menambah gurat-gurat cemas di wajahnya. Serangan alam rupanya tak sekuat terpaan jiwa. Perasaan itu didera rasa khawatir. Batinnya berkecamuk, menuntut tanggungjawab sebagai seorang kakak. Ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil di samping kirinya. Tapi betapa ia tak kuasa. Tubuhnya harus menopang berat motor dan menyeretnya perlahan. Hanya mata yang penuh belas kasih, yang ia layangkan sebagai bentuk perhatian. Dan senyum itu terasa sangat getir. Ia merasa waktu bergulir pelan. Sepanjang mata memandang, yang nampak hanyalah jalanan sunyi. Bahkan langitpun terasa mencekam tanpa bintang, tanpa bulan, dan sungguh gelap gulita. Hamparan sawah yang terbentang indah serta pohon-pohon yang tumbuh rimbun di tepi jalanan sepi, ternyata luput dari perhatiannya. Ia panik. Apa yang harus ia lakukan. Handphonenya lupa di cars. Ditambah hatinya semakin dongkol berada di kawasan yang jarang penduduk. Ia memapah motornya dalam keadaan tertatih. Anak kecil di sampingnya mungkin lebih letih lagi. Mereka melewati sebuah rumah. Namun sayang, ia sangat ragu rumah itu bisa disinggahi. Sepertinya tak mungkin ia dapat bertandang. Rumah itu terkunci rapat, seolah tak ada celah, bahkan oleh seekor nyamuk pun. Jendela-jendela telah di sekat oleh dua lapisan, bingkai kaca dan tirai tebal di bagian dalamnya. Lampu di luar nampak remang-remang, sedikit berkabut seperti rumah angker.
Sesekali ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukan pukul 20.25. Ia mendesah, dan nafasnya terasa berat. Sudah sejam yang lalu motornya mogok. Sudah beberapa kali ia melewati tempat ini. Ia tahu persis, ketika pagi hingga malam, masih banyak orang yang lalu-lalang meski tak sepadat jalanan pusat kota.  Namun kali ini berbeda, tak seorangpun bisa ia temui di tempat itu. Sejenak ia berpikir, mungkin saja bekas rinai dari hujan lebat sejak sore masih meninggalkan sengatan beku karena suhu udara yang cukup rendah. Apalagi Angin malampun ikut membius dengan lembut. Hingga para manusia enggan keluar. Cuaca Gorontalo yang dingin seolah menawarkan kehangatan di dalam rumah. Bahkan ada yang memilih terlelap dalam selimut tebal. Bila saja bukan karena dering telepon rumah selepas maghrib, ia juga telah terbuai di atas kasurnya yang empuk. Ngantuk dan rasa penat setelah seharian berkutat di depan laptop seolah dicabut paksa. Sebuah berita membuat batinnya tersentak hebat. Ia sangat panik bukan kepalang. Seseorang dibalik telepon dengan suara berat memberitahu ayahnya pingsan dan terkapar di lantai. Untungnya pak Ali, penjaga kantor, langsung mengambil tindakan cepat dengan membawa ayahnya ke rumah sakit terdekat. Sehingga ayahnya saat ini berhasil ditangani oleh petugas rumah sakit dengan baik. Iapun bergegas ke rumah sakit. Namun rupanya adik perempuan kelas 5 SD yang saat itu tengah bersamanya, cukup paham dengan kondisi itu. Alhasil ia harus meredam rengekan manja adiknya dengan mengajak gadis kecil itu juga.
Kali ini batinnya meronta, ia tak sanggup menahan iba. Langkahnya terhenti. Sejenak langkah mungil itu ikut terhenti pula. Kali ini ia biarkan motornya ditopang oleh sebuah besi seperti sadel. Wajahnya menunduk, memandang gadis kecil itu lekat-lekat. Tubuhnya sedikit merunduk. Kedua tangannya tepat berada di atas bahu gadis kecil itu.
“Maafin kakak ya, kakak lalai, akhirnya kita harus terjebak di sini, Alisa dingin ya?”
“iya” alisa mengangguk. Suara gadis kecil itu sedikit bergetar. Bibirnya yang tadi merah segar, terlihat pucat. Kulit tipisnya ternyata rentang cuaca. Ia tak sanggup menahan pilu. Dipeluknya alisa dengan hangat dan berbisik lembut.
“Bertahan ya, jaketnya jangan dilepas. Allah pasti akan menolong kita. Dan kita akan segera sampai di rumah sakit, ketemu ayah”
“Iya kak, alisa pengen ketemu ayah” Alisa memelas dan merengek lagi.
“Iya, alisa pasti bisa ketemu ayah. Sudah, jangan nangis lagi!”
Alisa mengangguk. Pemuda itu mengelus-ngelus kepala Alisa dengan penuh kasih sayang. Ia lantas memapah kembali motornya. Hatinya kembali meringis. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Salahnya dia, kenapa tadi tidak mengecek bensin motornya dulu. Salahnya ia pula, karena terburu-buru hingga mengambil jalan pintas yang paling cepat sampai di rumah sakit. Namun segera mungkin ia beristigfar. Tak pantas ia mudah mengeluh. Ia tak menginginkan ini terjadi. Tapi Allah pasti punya alasan terbaik atas semua kejadian ini. Ia terus memanjatkan do’a. Dalam hati ia memohon, agar Allah segera mengirimkan seseorang untuk menolongnya. Paling tidak bukan untuk dirinya. Tapi untuk adik yang sangat ia sayangi itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

cici mengatakan...

Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny

Posting Komentar