RSS

Satu Bangku di Kampus Impian

Sekilas cahaya menyembur ke bumi. Langit malam seolah pecah memuntahkan cahaya kilat. Gemuruhnya memecah senyap dikesunyian malam. Tanpa malu, derai hujan telah berhasil menumpahkan hasratnya untuk memeluk bumi. Bisik anginpun menyapa dengan lembut, menawarkan kemesraan malam yang syahdu.  Semilirnya mengurai desah nafas, nafas yang berselimutkan pilu. Kata-kata ibunya siang tadi, jelas menyisakan sesak di dada.
“Ibu harus bagaimana lagi? Ibu hanya tukang jahit kecil-kecilan yang kadang nganggur karena sepinya orderan. Ayahmu! hanyalah buruh galian pasir, yang punya pendapatan pas-pasan. Kamu bahkan lebih tahu, gaji ayah hanya cukup untuk makan kita dalam sehari. Mungkin, kalaupun harus dipaksakan, hanya satu diantara kalian berdua yang masih bisa ibu usahakan untuk lanjut. Kamu atau kakakmu?”
Pandangannya terpaku pada rintik-rintik hujan yang tak jemu. Asa telah membawa jiwanya pergi, menyelami masa depan yang tak pasti. Rasanya ia ingin berada di bawah atap langit itu, basah bersama bumi yang diguyur hujan. Agar tak ada yang tahu, panah-panah air yang lepas dari busur langit, telah menyamarkan tetesan suci dari riak matanya.
“Oh, Allah, masih bisakah untukku menahan hasrat ini setahun lagi untuk satu bangku saja di universitas impian? Masih samakah semangat ini untuk belajar bila harus menunggu setahun lagi? Ataukah mimpi kakakku harus ku korbankan demi ambisiku?” Gumamnya dalam hati. Lulus bersamaan dengan tingkatan pendidikan yang setara, menyeret kedua orang tuanya, tenggelam pada kondisi yang sulit. Ayah yang mendedikasikan dirinya untuk keluarga dengan bekerja serabutan. Menyusuri hulu sungai dipagi buta, menerjang arus, mengais ribuan bulir pasir di kedalaman sungai. Semuanya demi pundi-pundi rupiah yang bahkan hanya cukup untuk makan keluarga dalam sehari. Umurnya yang mulai renta, menyamarkan ketampanan yang termakan waktu. Gurat-gurat letih di wajah, kulit keriput sang pekerja kasar semakin menguras sendi dan ototnya. Tonjolan urat-urat nadi, mata yang condong tenggelam ke dalam, dan rambut putih semraut yang nampaknya kurang terurus demi pengabdian sepenuh jiwa dan raga. Mustahil bila ada rasa nyaman ketika menjabat tangannya. Sebab ketika tangan yang lembut, halus dan terawat mendarat di dasar telapak tangan itu, maka akan terasa tangan yang kasar berlapis-lapis. Tangan itu tak pernah nganggur seharipun dari benda-benda besar yang tajam, keras, dan kasar. Kulit ari di telapak tangan, akhirnya harus merasakan keganasan benda-benda itu hingga mati dan beku tanpa rasa.  Tak mampu terbayang pula, seorang ibu yang bekerja siang dan malam mengurus rumah tangganya, berjuang penuh dengan menawarkan jasa pada setiap mereka yang butuh pakaian jahitan. Semua demi enam orang anak yang butuh asupan pendidikan yang layak di sekolah formal. Masih begitu lekat dalam memori, kata-kata Ibunya beberapa waktu silam, saat tengah mempersiapkan adiknya tia menempuh tahun ajaran baru di kelas 1 SD.
“Kamu tahu nak, saat ibu mengatakan rencana ibu kepada ayah untuk berupaya menyekolahkan kakak pertamamu, di tengah kepayahan hidup kita, ayahmu bahkan tak setuju. Katanya, sedangkan kita saja tidak sekolah apalagi anak-anak. Rasanya miris hati ibu mendengar pengakuan ayah. Hidup kita sudah melarat nak, bahkan untuk makan sehari-hari saja tak cukup. dan Ibu tak mau kalian akan mengalami kesusahan seperti halnya kami. Nak, harapan ibu, sekalipun kami tidak sekolah, paling tidak kalian semua bisa sekolah. Bila perlu sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Masih ibu ingat, saat kakak pertamamu sakit, segenggam beraspun kita tak punya. Ibu berlari ke sana ke mari, mendatangi sanak keluarga, ke warung, hanya untuk mendapatkan sekaleng beras untuk dihutang. Sungguh, ibu tidak akan melakukan ini, bila harus kami yang kelaparan. Namun orang tua mana yang tega, bila di tengah-tengah mereka ada anak kecil yang terus menangis dengan tubuh mungil meringis karena lapar.” Hatinya terenyuh, tubuhnya bergetar, bibirnya keluh, nafasnya tersentak hebat. Tak mampu sorot matanya beradu, memandang mata beliau yang sayu, ada tetes-tetes sendu yang keluar dari riak mata sang ibu.
Di tengah pesimisnya seorang ayah, masih ada ibu yang mendukung penuh di balik mimpi yang tersekat. Hasratnya ingin merobek sekat-sekat itu, berlari menjemput mimpi, dan menggenggamnya bersamamu ibu. Suatu pengakuan yang menggugah kedalaman batinnyauntuk terus menjadi lebih baik. Memperjuangkan masa depan yang layak. Tiba-tiba, sorot matanya terpaku pada sebuah map lusuh berwarna abu-abu yang membalut selembar piagam dengan desain yang eleghant dan ia dapati sederet huruf telah terukir dengan tinta emas di sana. Dua baris huruf yang terpisah dalam kata itulah yang mendongkrak harapannya untuk mengukirnya kembali pada lembaga yang berbeda dan lebih tinggi lagi. Sembari hatinyabergumam membaca setiap baris kalimat yang tertera dalam lembar itu.
“Piagam, diberikan kepada ‘Isnabila Fathanah’ atas prestasinya sebagai siswa Teladan I berprestasi”. Sebuah senyumpun mengembang  dibibirnya, sebab tak terbayangkan sebelumnya ia akan dinobatkan sebagai siswa berprestasi di sekolahnya. Tiba-tiba ada suara yang menyahut dari balik tirai pintu kamar yang akhirnya membuyarkan lamunannya.
“Nak…!” Seseorang dengan paras sendu memilukan, menjamah lembut lengannya.
“Ibu sudah bicarakan dengan kak Ima, dan memutuskan kalian berdua akan tetap kuliah tahun ini. Ibu yang akan menanggung biaya untuk kak Ulin dan kamu akan dibiayai oleh kak Ima. Hanya itu jalan satu-satunya agar tak ada yang dikorbankan menunda tahun ini” Ujar ibu, yang  berlalu meninggalkannya dengan senyuman.
“Alhamdulillah ya Allah” tiba-tiba dalam gumam syukurnya, dua tetesan jatuh dari dua riak mata yang berbeda. Satu sejarah baru akan ia toreh dalam jejak kehidupan ini, yang akan ialukis dengan ukiran terindah, seindah harapan yang menancap dalam kemuliaan jiwa ibunya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

cici mengatakan...

Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny

Posting Komentar