Telah ku kabarkan pada hatiku yang sepi bahwa keresahan ini hampir
mencapai klimaksnya. Ketika ku jamah jiwa lebih dalam, sungguh kering
kerontang bak ruang hampa.
Sembari aku berpikir, katanya gelisah yang mendera, cukup kau hembuskan nafas pelan-pelan. Namun apa yang terjadi, dadaku kian sesak oleh udara yang seolah berduri.
Berhari-hari aku menilisik, hingga otakku mulai payah menjajah seluruh lorong waktu yang terlewati. Tatkala aku tersungkur dan merintih dalam kelamnya malam. Disudut kamar aku bercakap sendiri. Dan nurani seolah kawan sejati. Aku tenggelam dalam bahasa sunyi dan hanya aku dan Tuhanku yang mampu mendengarnya.
Kurapatkan tubuhku pada dinding-dinding yang bisu nan setia. Meski kasat mata, kurasa makhluk mini si bakteri dekil yang tertidur pada cat-cat putih, terperangah kaget oleh dentuman jantungku yang berdetak bak ketukan irama datar.
Aku tak tahu, apa yang membuatku betapa angkuhnya sekedar bersimpuh ikhlas di hadapan-Mu. Setelah sekian hari tubuhku letih dan tak ada nutrisi. Pandanganku kabur menatap dunia yang gagah membentang. Begitu ringan aku melepas pakaian amal sunnahku dan berlari seperti bocah kecil yang riang.
Beberapa hari ini aku mengeja kehadiran-Mu Tuhan. Aku merasa seperti anak bodoh yang terlepas dari Rangkulan kasih yang hangat. Bahkan surat cinta-Mu yang suci telah aku abaikan. Aku merasa seperti hamba yang bangkrut, setelah sebelumnya hatiku Engkau kaya-kan oleh keimanan.
Aku takut Tuhan, akan lama aku terpenjara oleh besi-besi syetan yang laknat. Terhempas pada pesona dunia yang merajalela.
Aku takut Tuhan, aku kan pasrah pada kejamnya neraka yang melipat-lipat tubuh dan melahap keroncongan. Bahkan sepasang langit dan bumi menatap sinis pada setiap durjana yang durhaka kepada-Mu.
Aku sadari, betapa jauh darimu membuat hati hilang kelembutan. ia seperti basah oleh bensin yang mudah sekali terbakar, bahkan oleh gesekan api yang redup sekalipun.
Aku bingung, bagaimana caranya, gejolak hati yang meratap mendorong kantung kecil dimataku hingga mampu menitikkan air. Aku juga tak tahu, bagaimana caranya menahan aliran yang merembes deras dipelupuk ini. Tapi aku bersyukur, paling tidak aku terhindar dari ejekan gila seisi rumah. Sebab aku berhasil menahan rintihan suara tangisku yang memecah sunyi di sudut ruang gelap, meski hanya ku katup oleh tangan seadanya.
Apakah ini yang namanya fluktuasi iman Tuhan? sungguh membuat jasadku mengerut seperti balon tanpa tiupan ruh. Entah dimana ruh keimanan itu terpental jauh. Aku berharap dia kembali, meski harus tertatih, meski harus terseok, meski harus merangkak, dan menambal jiwa yang keropos. Mencongkak semangat pada jiwa yang hampir tersungkur. Memangkas onak-onak dan rumput-rumput liar yang berkecambah rimbun, hingga ia menjadi lapang, lapang oleh kehadiran iman.
Hingga subuh dini hari tadi, dengan kehendak-Mu mataku terbuka. Dan kedua tanganku mendarat di wajah yang masih di bius oleh rasa ngantuk. Sungguh berbeda dengan subuh-subuh biasanya. Aku terbangun dengan aroma ketakutan, menyelip ke dadaku, hingga jantungku berdetak tak karuan. Mataku berkaca-kaca dan otakku mengirim rangsangan ke seluruh bulu kudukku yang perlahan merinding. Memoriku seperti siaran dengan ranting tertinggi, mengirim liputan waktu dalam mimpiku. Aku teringat seorang ibu, dari anak remaja yang telah meninggal beberapa hari yang lalu, ia masih sangat muda, namun kematian datang tiba-tiba dalam sekejab mata.
MasyaAllah aku mulai melihat bayang-bayang kematian dibenakku. Seketika aku tersadar bahwa kematian bisa datang kapan saja, bahkan di usia yang masih seumur jagung pun. Ketika ku sadar, aku bahkan tak mampu menghadap-Mu sekarang dengan membawa diri yang kumu akan dosa. Miskin akan amal. Dan Khilaf yg berkepanjangan. Subuh kulewati dengan tetesan air mata lagi, serta merta memohon ampunan pada Rabb-Ku. Dan dengan entengnya, tiba-tiba bibirku memohon agar dimudahkan mati dalam keadaan khusnul khotimah.
AAhhhhhh aku mengumpat diriku, sadarkah kamu meminta hal yang besar sedang pakaian sombongmu belum tercopot dari tubuh yang berleha-leha dalam kemalasan itu. Aku kemudian terhampar dalam sujud panjangku pada-Nya.
“Ya Allah bantu aku mengembalikan semangatku untuk beribadah penuh kepada-Mu”
Hingga fajar menyingsing terdengar berita, seorang tetanggaku meninggal dan akan dikebumikan jam 10 pagi. Aku kembali berceloteh pada-Nya melalui perantara hati.
“Rabbi, inikah peringatan dari-Mu”
Jam 10, kulangkahkan kaki ditengah teriknya mentari yang cukup menyengat kulit. Langkahku masih tetap gontai, kuayunkan dengan malasnya. Ustadz yang memberi ceramah, tak sepenuhnya kata-kata hikmah yang ia lontarkan terserap baik oleh pendengaranku. Hingga menjelang pukul 11 siang, sang mayat akan segera di shalatkan di dalam rumah. Aku tak berselera bahkan tak ada niat untuk menggondol pahala yang ditaburkan Allah lewat shalat jenazah bersama jama’ah. Cukuplah aku membantu mengatur kursi disekelilingku yang berada di samping rumah, sebab akan digunakan oleh para jama’ah wanita yang akan menyalatkan jenazah. Tiba-tiba belum selesai aku mengatur kursi, para jama’ah wanita telah mulai mengerumuni sekelilingku. Sontak aku dikelilingi oleh para jamaah itu. Hampir semua celah telah tertutupi. Didepanku telah terurai barisan padat dari wanita-wanita berpakaian putih dengan jilbab lebar. pandanganku merayap ke samping kiri dan kanan, dua orang wanita yang entahlah dari mana asalnya telah mengapit rapi disampingku. Jadilah tempatku berdiri sejak tadi sebuah barisan tak sengaja dan tak terpikir oleh logikaku sama sekali. Sekarang aku dipandang sebagai jama’ah yang juga akan ikut menyalati jenazah. Untungnya wudhu ku saat dhuha di rumah tadi belum batal. Anehnya aku tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Aku terhantar pada kesadaran yang jauh tentang kematian yang kapan saja akan datang menyapa. Dipenghujung, saat sang imam sedang memberi komando Do’a, sukmaku bercengkerama kepada sang Penggenggam jiwa. Setelah do’a untuk sang mayat, aku berdo’a,
“Rabbi, matikan kami dalam keadaan khusnul khotimah”
Teriknya matahari bertambah intensitas panasnya. Aku bersama rombongan, mengebumikan jenazah. Sebuah pemandangan yang membuatku tersungkur dalam kesedihan di relung jiwa. seonggok daging yang terbungkus kain putih bersih telah diusung ke liang lahat. Ya Rabb, hatiku tersentak kian hebat, betapa aku menyadari,
“Bahwa kelak ketika kematian digelar, tanpa tawar menawar segala persoalan dunia diputus. termasuk tobat seorang hamba tak ada gunanya lagi. Kesempatan beramal tak akan kembali lagi. Dan semuanya telah usai, kecuali 3 yang itupun berhasil ditumpuk oleh mereka yang tangguh, amal jariah (yang terus mengalir pahalanya), ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang selalu mendoakannya”
Semoga kita selalu diingatkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Dan fatamorgana dunia yang kita sanjung-sanjung kemegahannya, tidak lebih baik dari SYURGA yang sungguh dahsyat keindahannya.
Keep Istiqomah kawan ^_^
Sembari aku berpikir, katanya gelisah yang mendera, cukup kau hembuskan nafas pelan-pelan. Namun apa yang terjadi, dadaku kian sesak oleh udara yang seolah berduri.
Berhari-hari aku menilisik, hingga otakku mulai payah menjajah seluruh lorong waktu yang terlewati. Tatkala aku tersungkur dan merintih dalam kelamnya malam. Disudut kamar aku bercakap sendiri. Dan nurani seolah kawan sejati. Aku tenggelam dalam bahasa sunyi dan hanya aku dan Tuhanku yang mampu mendengarnya.
Kurapatkan tubuhku pada dinding-dinding yang bisu nan setia. Meski kasat mata, kurasa makhluk mini si bakteri dekil yang tertidur pada cat-cat putih, terperangah kaget oleh dentuman jantungku yang berdetak bak ketukan irama datar.
Aku tak tahu, apa yang membuatku betapa angkuhnya sekedar bersimpuh ikhlas di hadapan-Mu. Setelah sekian hari tubuhku letih dan tak ada nutrisi. Pandanganku kabur menatap dunia yang gagah membentang. Begitu ringan aku melepas pakaian amal sunnahku dan berlari seperti bocah kecil yang riang.
Beberapa hari ini aku mengeja kehadiran-Mu Tuhan. Aku merasa seperti anak bodoh yang terlepas dari Rangkulan kasih yang hangat. Bahkan surat cinta-Mu yang suci telah aku abaikan. Aku merasa seperti hamba yang bangkrut, setelah sebelumnya hatiku Engkau kaya-kan oleh keimanan.
Aku takut Tuhan, akan lama aku terpenjara oleh besi-besi syetan yang laknat. Terhempas pada pesona dunia yang merajalela.
Aku takut Tuhan, aku kan pasrah pada kejamnya neraka yang melipat-lipat tubuh dan melahap keroncongan. Bahkan sepasang langit dan bumi menatap sinis pada setiap durjana yang durhaka kepada-Mu.
Aku sadari, betapa jauh darimu membuat hati hilang kelembutan. ia seperti basah oleh bensin yang mudah sekali terbakar, bahkan oleh gesekan api yang redup sekalipun.
Aku bingung, bagaimana caranya, gejolak hati yang meratap mendorong kantung kecil dimataku hingga mampu menitikkan air. Aku juga tak tahu, bagaimana caranya menahan aliran yang merembes deras dipelupuk ini. Tapi aku bersyukur, paling tidak aku terhindar dari ejekan gila seisi rumah. Sebab aku berhasil menahan rintihan suara tangisku yang memecah sunyi di sudut ruang gelap, meski hanya ku katup oleh tangan seadanya.
Apakah ini yang namanya fluktuasi iman Tuhan? sungguh membuat jasadku mengerut seperti balon tanpa tiupan ruh. Entah dimana ruh keimanan itu terpental jauh. Aku berharap dia kembali, meski harus tertatih, meski harus terseok, meski harus merangkak, dan menambal jiwa yang keropos. Mencongkak semangat pada jiwa yang hampir tersungkur. Memangkas onak-onak dan rumput-rumput liar yang berkecambah rimbun, hingga ia menjadi lapang, lapang oleh kehadiran iman.
Hingga subuh dini hari tadi, dengan kehendak-Mu mataku terbuka. Dan kedua tanganku mendarat di wajah yang masih di bius oleh rasa ngantuk. Sungguh berbeda dengan subuh-subuh biasanya. Aku terbangun dengan aroma ketakutan, menyelip ke dadaku, hingga jantungku berdetak tak karuan. Mataku berkaca-kaca dan otakku mengirim rangsangan ke seluruh bulu kudukku yang perlahan merinding. Memoriku seperti siaran dengan ranting tertinggi, mengirim liputan waktu dalam mimpiku. Aku teringat seorang ibu, dari anak remaja yang telah meninggal beberapa hari yang lalu, ia masih sangat muda, namun kematian datang tiba-tiba dalam sekejab mata.
MasyaAllah aku mulai melihat bayang-bayang kematian dibenakku. Seketika aku tersadar bahwa kematian bisa datang kapan saja, bahkan di usia yang masih seumur jagung pun. Ketika ku sadar, aku bahkan tak mampu menghadap-Mu sekarang dengan membawa diri yang kumu akan dosa. Miskin akan amal. Dan Khilaf yg berkepanjangan. Subuh kulewati dengan tetesan air mata lagi, serta merta memohon ampunan pada Rabb-Ku. Dan dengan entengnya, tiba-tiba bibirku memohon agar dimudahkan mati dalam keadaan khusnul khotimah.
AAhhhhhh aku mengumpat diriku, sadarkah kamu meminta hal yang besar sedang pakaian sombongmu belum tercopot dari tubuh yang berleha-leha dalam kemalasan itu. Aku kemudian terhampar dalam sujud panjangku pada-Nya.
“Ya Allah bantu aku mengembalikan semangatku untuk beribadah penuh kepada-Mu”
Hingga fajar menyingsing terdengar berita, seorang tetanggaku meninggal dan akan dikebumikan jam 10 pagi. Aku kembali berceloteh pada-Nya melalui perantara hati.
“Rabbi, inikah peringatan dari-Mu”
Jam 10, kulangkahkan kaki ditengah teriknya mentari yang cukup menyengat kulit. Langkahku masih tetap gontai, kuayunkan dengan malasnya. Ustadz yang memberi ceramah, tak sepenuhnya kata-kata hikmah yang ia lontarkan terserap baik oleh pendengaranku. Hingga menjelang pukul 11 siang, sang mayat akan segera di shalatkan di dalam rumah. Aku tak berselera bahkan tak ada niat untuk menggondol pahala yang ditaburkan Allah lewat shalat jenazah bersama jama’ah. Cukuplah aku membantu mengatur kursi disekelilingku yang berada di samping rumah, sebab akan digunakan oleh para jama’ah wanita yang akan menyalatkan jenazah. Tiba-tiba belum selesai aku mengatur kursi, para jama’ah wanita telah mulai mengerumuni sekelilingku. Sontak aku dikelilingi oleh para jamaah itu. Hampir semua celah telah tertutupi. Didepanku telah terurai barisan padat dari wanita-wanita berpakaian putih dengan jilbab lebar. pandanganku merayap ke samping kiri dan kanan, dua orang wanita yang entahlah dari mana asalnya telah mengapit rapi disampingku. Jadilah tempatku berdiri sejak tadi sebuah barisan tak sengaja dan tak terpikir oleh logikaku sama sekali. Sekarang aku dipandang sebagai jama’ah yang juga akan ikut menyalati jenazah. Untungnya wudhu ku saat dhuha di rumah tadi belum batal. Anehnya aku tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Aku terhantar pada kesadaran yang jauh tentang kematian yang kapan saja akan datang menyapa. Dipenghujung, saat sang imam sedang memberi komando Do’a, sukmaku bercengkerama kepada sang Penggenggam jiwa. Setelah do’a untuk sang mayat, aku berdo’a,
“Rabbi, matikan kami dalam keadaan khusnul khotimah”
Teriknya matahari bertambah intensitas panasnya. Aku bersama rombongan, mengebumikan jenazah. Sebuah pemandangan yang membuatku tersungkur dalam kesedihan di relung jiwa. seonggok daging yang terbungkus kain putih bersih telah diusung ke liang lahat. Ya Rabb, hatiku tersentak kian hebat, betapa aku menyadari,
“Bahwa kelak ketika kematian digelar, tanpa tawar menawar segala persoalan dunia diputus. termasuk tobat seorang hamba tak ada gunanya lagi. Kesempatan beramal tak akan kembali lagi. Dan semuanya telah usai, kecuali 3 yang itupun berhasil ditumpuk oleh mereka yang tangguh, amal jariah (yang terus mengalir pahalanya), ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang selalu mendoakannya”
Semoga kita selalu diingatkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Dan fatamorgana dunia yang kita sanjung-sanjung kemegahannya, tidak lebih baik dari SYURGA yang sungguh dahsyat keindahannya.
Keep Istiqomah kawan ^_^








3 komentar:
nice posting, dear...
tulisanmu selalu memberi ruh baru untukku :-)
heheh banyak yang salah EYD nya ukhti. tidak serapi tulisanmu yang eksklusif
Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny
Posting Komentar