Diberbagai persimpangan jalan, sering kita melihat sebuah spanduk yang bertuliskan “Indonesia Krisis Akhlak”. Tidak heran hal ini menjadi perhatian besar bangsa karena mengingat generasi yang mulai ambruk moral dan peradabannya. Begitu marak kasus-kasus pemberitaan korupsi, pemerkosaan, pencurian, mutilasi, tawuran, narkoba dan masih banyak lagi yang dilakukan oleh orang dewasa hingga anak-anak. Bahkan menjelang pengumuman Ujian Nasional (UN), tersiar berita yang begitu mencoreng wajah generasi emas Indonesia dimana sekitar puluhan pasangan, berpesta maksiat dengan dalih untuk menghilangkan stress pasca UN.
Menyorot krisis akhlak yang semakin kritis, tentu ada kaitannya dengan ketidakpahaman generasi bahwa masih ada hal-hal positif yang bisa dilakukan. Kurangnya pengetahuan, dan dangkalnya ilmu. Akhirnya, kebodohan diri diperturutkan, tanpa sadar membawa petaka yang besar. Seperti mengutip kata-kata AA Gym,
“Salah satu ciri orang yang kurang ilmu adalah hilangnya kearifan. Andalannya adalah otot dan amarah.”
Perintah Allah SWT yang pertama kepada kita segenap manusia adalah membaca.
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling mulia. Yang telah mengajarkanmu melalui perantara qalam.” (QS. Al-‘Ala’: 1-5)
Aktivitas membaca telah menjadi hal yang wajib hukumnya. Bahkan malaikat jibril begitu erat mendekap dan memaksa Nabi Muhammad SAW hingga tubuhnya gemetar hanya untuk membaca. Betapa pentingnya perintah ini, sebab Allah tahu, membaca dapat menambah ilmu, wawasan dan membuat kita menyadari kebodohan diri sendiri. Imam syafi’I berkata,
“Semakin banyak saya belajar, semakin ketahuanlah betapa bodohnya diri ini. Semakin banyak saya membaca, semakin saya menyadari betapa sedikitnya ilmu yang dimiliki.”
Merujuk data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistika (BPS) pada tahun 2012 dijelaskan bahwa sebanyak 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonon televisi, dan hanya sekitar 17,66 persen yang menyukai membaca dari berbagai sumber seperti surat kabar, buku, majalah atau media baca lainnya. Di tahun yang sama pula, United Nations Educational Scientific and cultural Organization (UNESCO) atau organisasi pendidikan ilmiah dan kebudayaan PBB, menyatakan hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat membaca.
Sejalan dengan merosotnya minat baca, juga mengakibatkan buruknya motivasi menulis. Sebab sakaunya para pembaca dapat membuat imajinasinya semakin liar. Dan menulis adalah obat yang tepat untuk menyembuhkan hasrat berkarya lewat tulisan. Mengikat ide-ide untuk kemudian dipahat dalam aksara. Akhirnya, tidak hanya mampu mencerahkan diri, tapi dapat mengubah kehidupan banyak orang. Membaca itu adalah kuliahnya seorang penulis. Dapat dibayangkan, seandainya satu generasi saja tidak ada yang sudi menulis, maka sejarah jelas akan terputus. Padahal membaca dan menulis adalah budaya luhur yang harus dipupuk subur, semata-mata jika ingin melihat negara ini makmur.
Boleh berkaca dari sebuah negara dengan pendidikan nomor satu di dunia. Finlandia, bahkan begitu sangat khawatir dengan generasinya, sejak masih dalam kandungan, para ibu-ibu hamil telah diwajibkan dan difasilitasi buku-buku yang patut dibaca. Jerman mewajibkan siswanya sebelum lulus untuk dapat menamatkan membaca 22-23 buku. Negara Malaysia dan singapura juga menetapkan aturan bagi siswa yang ingin lulus harus membaca enam buah buku terlebih dahulu. Bahkan jepang dan amerika dengan minat bacanya yang sangat tinggi. Sisa koran dan majalah bisa dijumpai di seluruh tempat-tempat umum, semisal terminal atau bahkan di kursi-kursi sebuah bus kota, yang kemudian dibaca lagi oleh orang-orang yang menemukannya. Jadi tidak heran negara mereka bisa maju, informasi terus update. Bahkan penelitian-penelitian mencengangkan terbit di jurnal-jurnal internasional hingga melahirkan produk industri yang laris dipasar dunia.
Fakta tentang menulis dan membaca mungkin jarang diketahui oleh orang Indonesia. Betapa banyak mereka yang suka membaca dan menulis, mampu hidup sehat secara mental, sangat kaya, bisa lebih dekat dengan Tuhannya, fungsi otak semakin cerdas, berpikir merdeka, dan akhirnya membuka jalan untuk bisa tenar dan populer. Berikut ini beberapa manfaat membaca dan menulis.
a. Lebih sehat secara mental.
“Orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dari mereka yang tidak punya kebiasaan tersebut. Pikiran yang sehat tentunya akan memberi kekuatan positif pada tubuh kita. Dengan memahami ini, maka menulis dapat menjadi kekuatan bagi penulis dan pembacanya.” (Dr. James W. Pennebaker).
Belajar dari pengalaman hidup Jean-Dominique Bauby, pemimpin redaksi majalah Elle, Prancis. Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun. Ia mengidap penyakit stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh total. Ia seperti mayat yang bernafas. Bahkan untuk sekedar menelan ludah saja ia tak sanggup. Namun betapa sakitnya tubuh, pikirannya tetap jernih. Meskipun sudah tak mampu berbuat apa-apa ia masih tetap optimis melakukan hal terbaik di sisa umurnya. Maka ia putuskan untuk menulis. Hal inilah yang membuat mentalnya tetap sehat, dan semangatnya tetap menyala. Satu-satunya modal yang ia miliki hanya kelopak mata. Ia meminta bantuan dokter dan suster yang begitu sabar untuk membantunya menulis. Kedipan kelopak mata inilah yang ia gunakan untuk menunjukan huruf-huruf yang ia kehendaki. ia menuliskan kisah hidupnya. Dan akhirnya terbitlah sebuah buku yang sangat istimewa dengan tajuk ‘Le Scaphandre” et le Papillon (The Bubble and the Butterfly).
Kemudian melirik lagi seorang novelis nomor satu di Indonesia, habiburrahman Elshirazy. Novel pertama yang meledak dipasaran, sebenarnya berawal dari sebuah kecelakaan yang membuat kakinya patah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Begitu banyak cibiran tetangga yang meremehkan kemampuannya sebagai mahasiswa Kairo. Akhirnya ia temukan muara bagi segala kegelisahan hatinya, yakni menulis. Selama dirawat kurang lebih satu bulan, ia terus menulis dan menemukan jiwanya yang hanyut pada setiap kalimat indah dalam karya Ayat-Ayat Cinta (AAC). Ia juga mengaku, ikut menangis ketika menulis buku AAC, seolah-olah ia mengalaminya sendiri. Berawal dari sinilah ia mulai dikenal banyak kalangan. Menghasilkan karya-karya mega best seller dan kemudian diadopsi menjadi sebuah film layar lebar yang berhasil meraup ratusan ribu penonton. Berbagai undangan membanjiri untuk mengisi forum-forum tertentu baik dalam negeri maupun manca negara.
Perihal yang hampir sama pernah menimpa seorang novelis yang tersohor di negara ini. Bahkan namanya mulai membumbung ke dunia internasional. Asma Nadia, penulis yang telah menghasilkan karya lebih dari 50 buku best seller. Sebelum menjadi penulis sukses, di tengah kemiskinan dan kemalaratan hidup, Asma kecil, harus menanggung derita penyakit yang tak sedikit. Mulai dari geger otak, jantung yang bermasalah, paru-paru yang kotor, belasan gigi membusuk, hingga menyusul peyakit tumor. Beberapa bulan lalu, saat di undang sebagai bintang tamu di acara Hitam Putih, Asma mengaku sudah lima tumor terangkat dan masih tersisa tiga lagi ditubuhnya. Mengetahui kondisi memilukan ini, ibunya Asma Nadia sadar bahwa satu-satunya yang membuat Asma begitu semangat dan melawan rasa sakit ditubuhnya hanya membaca dan menulis. Maka, ibu Asma Nadia rela tidak makan siang hanya untuk membeli sebuah buku yang begitu didamba anaknya.
Menulis dan membaca justru semakin membuat tubuh berenergi. Melecutkan semangat berkaya meski tubuh digerogoti penyakit. Fisik boleh lemah, tapi mental tak boleh kalah. Itu yang dirasakan BJ. Habibie ketika ditinggalkan almarhumah istrinya. Menulis mejadi terapi untuk menyalurkan pengalaman pahit. Meregangkan syaraf-syaraf karena stress berlebih.
b. Membuat kita menjadi kaya
Saat ini, negara yang mendapat predikat negara maju adalah negara yang memiliki masyarakat yang tinggi minat baca dan kemampuan menulisnya. Bahkan menulis adalah pekerjaan paling bergengsi dan memiliki penghasilan yang tinggi. Sekali terbit, penulis bisa mengantongi pendapatan miliyaran bahkan triliun. Sebut saja, J.K. Rowling, penulis buku Harry Potter yang laris besar, hingga menembus box office dunia. Disebut-sebut sebagai orang terkaya melebihi ratu Inggris Elizabeth. Padahal sebelum karyanya menggemparkan dunia literasi, ia pernah hidup sangat melarat dan dipecat dari kantor karena diam-diam mencuri waktu kerja untuk menulis buku Harry Potter. Ada Stephenie Meyers, dengan serial novel twilight yang idenya diperoleh lewat mimpi, mampu juga menembus box office dan menarik puluhan juta penonton di seluruh dunia. Di Indonesia, karya-karya Habiburrahman Elshirazy menurut berita, mampu mencapai milyaran. Laskar pelangi, Andrea Hirata, filmnya diputar hingga ke luar negeri. Seorang professor, sekali menulis 1000 kata dalam sebuah kolom surat kabar, bisa dihargai hingga lima juta. Dan masih banyak lagi penulis-penulis dunia maupun Indonesia yang berhasil menaikan taraf hidupnya hanya dengan menulis. Meskipun sebenarnya tidak sedikit juga, banyak penulis yang standar hidupnya secara materi boleh dikatakan miskin. Tapi itu wajar bagi kondisi minat baca Indonesia yang buruk. Banyak buku berkualitas akhirnya tidak laku, dibagikan gratis, diasingkan ke gudang dan menjadi santapan lepisma, hewan perusak buku. Namun meskipun begitu, ada kekayaan yang tak bisa di ukur dengan materi, kepuasan batin untuk berkarya.
c. Warisan para ulama
Setelah Nabi wafat, Umar bin Khattab kemudian menggagas agar Alqur’an dijadikan satu mushaf. Pepatah mengatakan buku adalah harta karun. Karena itulah membaca dan menulis adalah warisan orang-orang cerdas. Salah satunya para ulama. Menurut Putra Buya Hamka, Irfan Hamka, Zaman dulu, sekitar 500 sampai 1000 tahun yang lalu, para ulama itu saling berlomba untuk melahirkan buku. Mereka saling bersilaturahim, dan berdiskusi soal agama. Kemudian hal itu tidak lewat begitu saja. Melainkan segera dituangkan dalam sebuah tulisan. Bahkan mereka rela mencampur makanan dengan air, meski akan terasa tawar, agar bisa langsung ditelan dan mereka dapat segera membaca dan menulis lagi. Mereka rela hidup miskin meski hanya dengan sehelai pakaian di badan, asalkan bisa terus menulis.
Muhidin M. Dahlan, novelis Jogjakarta, mengaku bahwa baginya menulis adalah jalan asketik, yakni jalan pengikatan diri terhadap Allah (hablum minallah) dan hal apapun (hablum minan naas) untuk kemudian menyampaikan (hanya) kebenaran yang kita yakini, kita geluti lalu kita sampaikan dengan menuangkannya dalam sebuah tulisan.
Ulama-ulaman zaman dulu semisal Imam Nawawi, Imam Al-Ghazali, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Al-Jauzy, dan masih banyak lagi. Mereka telah menulis ribuan kitab berjilid-jilid yang kemudian menjadi referensi intelektual muslim hingga saat ini.
d. Kebiasaan orang-orang Jenius
Membaca dan menulis, dapat menjernihkan pikiran, mengingat informasi baru, memecahkan masalah, mencegah terjadinya kepikunan serta meningkatkan aktivitas sel. Ingat, otak kita memiliki kapasitas yang terbatas, jadi menulis dapat melewati batas-batas itu dengan mengabadikannya lewat karya.
Catharine. N. Cox telah mempelajari 300 orang jenius seperti Albert Einstein, Issac Newton, Thomas Jefferson dan menemukan mereka semua mewajibkan diri untuk membuat catatan harian.
Ketika membaca dan menulis, banyak para penulis melakukan penelitian kecil-kecilan hingga besar dan menemukan hal-hal baru. Menurut pakar neurobiology dari Duke University, Professor Lawrence mengatakan bahwa menemukan cara baru dalam berpikir dan mencoba hal baru dapat meningkatkan fungsi dari daerah otak yang kurang aktif.
Selain itu, menulis dan membaca adalah proses yang dilakukan secara berulang-ulang. Memori otak kita terdiri atas memori jangka pendek dan panjang. Untuk itulah ketika kita duduk dalam sebuah seminar, sekali materi disajikan, hanya sedikit saja yang kita ingat. Sebab tidak semua bisa tersaring oleh otak. Inilah yang masuk ke dalam memori jangka pendek. Dan jika yang kita ingat tersebut terus di ulang-ulang bahkan diamalkan, informasi itu bisa masuk ke dalam bilik jangka panjang serta menjadi ingatan yang permanen.
e. Menulis berarti Merdeka.
Banyak diantara kita yang merasa terbebani oleh pekerjaan. Bukan karena tidak sesuai passion tapi karena terlalu dikekang oleh rutinitas dan aturan mengikat. Harus datang lebih pagi dengan jam sekian, hingga sore bahkan lembur malam. Ritme kerja begitu sangat datar dan tak ada variasi. Belum lagi jika pekerjaan tak beres, harus ditegur keras oleh atasan. Akhirnya stress berkepanjangan. Ruang kerja dengan hiasan bunga indah, harum dan sejuk, seperti penjara yang dibatasi tembok-tembok kokoh. Meskipun, setelah itu move on kembali.
Sehingga tak heran, banyak para guru atau pegawai kantoran, sesekali mengambil waktu cuti, ijin tak masuk, atau pulang sebelum jam keluar, karena aktivitas yang terlalu monoton. Beda halnya dengan para penulis, mereka merdeka dengan kehidupannya. Bisa mengatur jam kerjanya sendiri, tidak diekang oleh aturan atau diperintah oleh atasan. Pemimpinnya adalah diri mereka sendiri. Bahkan meskipun berada dalam penjara, mereka masih tetap menulis. Jeruji besi bukan hal yang menakutkan, justru menjadi kesempatan karena merasa memiliki waktu yang prima untuk membaca dan menulis. Sehingga dalam kondisi seperti itupun tetap terasa dinikmati. Tengok saja Buya Hamka, sejarah mencatat, etos menulisnya lebih menyala-nyala kala harus menulis di dalam penjara. Ia sanggup menyelesaikan karya monumentalnya berupa senarai tafsir Al-Azhar. Dan masih banyak penulis lainnya yang menghasilkan karya besar setelah mendekam di dalam penjara.
f. Menulis adalah catatan harian orang-orang Tenar
Di Barat sendiri, telah banyak buku harian yang diterbitkan. Mulai catatan hariannya Samuel Peppys (seorang prajurit Angkatan Laut Inggris di abad 17), Virginia Wolf (novelis yang masyhur lewat novel Mrs. Dalloway), hingga Zlata Filipovic, gadis Sarajevo seumuran Anne Frank yang catatannya menjadi rujukan ihwal perang Bosnia di awal 1990-an.
Tentang Dia adalah catatan harian yang dikembangkan Melly Goeslow untuk dijadikan cerpen lalu diangkat menjadi sebuah film. Grup band Nidji menulis lagu “Laskar Pelangi” setelah giring membaca novel berjudul sama yang ditulis oleh Andrea Hirata. Saat novel laskar pelangi diangkat menjadi film layar lebar, lagu ciptaan giring tersebut lantas menjadi ‘soundtrack’ tahun 2008. Dan masih banyak lirik yang berawal dari puisi dan kemudian diberi sentuhan nada hingga menjadi sebuah lagu.
Siapa yang tidak kenal raditya dika? seorang penulis blogger dengan tulisan humor yang populer. Sebuah catatan harian pelajar bodoh “kambing jantan” masuk dalam kategori best seller. Ketenaran itu hanya berawal dari menulis pengalaman pribadinya di blog. Kini ia banyak mendapatkan tawaran untuk bermain film, model iklan, bahkan menjadi salah satu juri stand up comedy di kompas TV.
Jadi kenapa kita harus menulis dan membaca? Sebab banyak hal bermanfaat yang bisa kita dapatkan dari aktivitas menulis. Utamanya dari segi kesehatan, dapat menjadi terapi yang sangat manjur. Menulis juga membuat diri kita kaya, tak hanya secara materi, tapi kaya ilmu dan jiwa. Ini juga merupakan warisan para ulama dan kebiasaan orang-orang jenius. Tak hanya itu, kita bisa lebih merdeka tanpa harus di ikat oleh aturan. Terakhir, yang paling dimimpikan banyak orang, sejarah mencatat, bahwa seorang penulis, namanya akan terus hidup dalam sejarah bahkan abadi hingga nanti.
Ayo, gabung dengan Sekolah Menulis Forum Lingkar Pena Gorontalo, setiap hari sabtu, jam 16.00. Menulis itu keren loh! Salam Literasi ^_^









1 komentar:
semangaaat membaca dan menulis...
terimakasih ibu penulis, tulisannya mencerahkan......
Posting Komentar