RSS

Pesan Hitbah

       Ba’da Maghrib ia telah tiba di rumah. Usai memberi salam kepada seisi rumah, buru-buru ia berhambur masuk ke dalam kamar. Ia manjakan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Nampak jelas gurat-gurat wajah lesu menghiasi jelita parasnya. Ada selaksa keluh menyelusup batin. Raga dan jiwanya sangat lelah setelah setahun mendedikasikan diri untuk sebuah kontribusi besar agenda-agenda dakwah yang amat padat. Apalagi seharian ia bahkan tak punya sedetikpun waktu luang untuk bersantai. Syuro’ tadi membuat kepalanya pening, Merancang strategi, taktik, upaya, cara dan sarana. Memetakan potensi para aktivis yang selalu setia bekerja dimanapun mereka berada. Memetakan jalan bagi kemenangan perjuangan, meretas kejayaan pergerakan. Memikirkan masa depan umat yang mulai lumpuh moral dan keimanannya. Memikirkan rencana strategis, membangun peradaban masa depan islam yang gilang gemilang. Namun ia segera tersadar dan kata istigfar ia tasbihkan sebanyak-banyaknya dalam hati. Seolah tersadar bahwa keluhnya meranggas aqidah. Ia teringat janji Allah, dan kembali menata hatinya. Seraya berdo’a penuh khusyuk kepada Sang Gaffur,

       “Yaa Rabb, sesungguhnya diri ini tak mampu menyembunyikan kelemahan di hadapan-Mu, karena kekuatan sempurna hanya milik-Mu. Sungguh diri ini sering lengah dan lalai. Maka hanya kepada-Mu hamba memohon kekuatan dan Ampunan. Ampuni hamba ya Allah, Apa yang hamba usahakan tak sebanding dengan nikmat-Mu selama ini yang tak terukur. Terimalah tobatku ya Allah. aamiin .”
Tak lama ia memejamkan mata, tiba-tiba terdengar Hp-nya berdering. Diraihnya Handphone dalam tas. Dilirik, dan ternyata ada dua pesan masuk. Sebuah nama yang sangat dikenal terukir jelas di layar kaca handphone.

“Pesan dari Prof Nur” ujarnya dalam hati

“Safirah, tolong di data nama-nama mahasiswa bimbingan akademik saya ya…! beserta NIM, semester, kelas, angkatan dan nomor handphonenya. Kamis depan tolong di antar dan diletakkan di meja ruangan saya. terimakasih!”

“Iya ibu, insyaAllah akan saya data dan saya antar ke ruangan ibu segera. Sama-sama bu!” balas safirah, lewat pesan singkat kepada dosen Pembimbing Akademiknya.

Pesan kedua dari sebuah nomor baru yang tak dikenal. Setelah dibuka ternyata pesan itu berisi nasehat-nasehat islami. Tak pernah ia mengubris pesan itu. Sebab sang pemilik nomor bahkan tak memperkenankan namanya terselip dalam bait-bait pesan tersebut. Sejenak ia berpikir, mungkin ini adalah jaringan komunikasi dakwah yang merupakan bagian dari program kerja LDK. Jadi tak heran jika nomor para aktivis dakwah sering kebocoran, karena memang semua data mereka telah direkap oleh bagian kaderisasi LDK. Safirah berusaha meresapi makna dari setiap kata pesan tersebut, hingga kemudian berusaha ia amalkan semampunya.
***

Siang itu sang surya begitu terik. Jilbab dan rok hitam yang dikenakannya hanya semenit meresap panas. Panas yang akhirnya menyelusup masuk lewat rongga kain dan menyengat kulit. Ada bulir-bulir air sisa pembakaran yang menempel di dahi, dan sedikit membasahi tepian jilbab yang menghiasi parasnya yang cantik. Tak jarang ada tetesan jatuh ke tanah, saat sesekali ia menundukkan pandangan. Seperti biasa, ia harus menunggu mobil angkot jurusan kampus melintas di halte dekat rumahnya berpuluh-puluh menit hingga bahkan melebihi satu jam. Sesekali ia memandangi orang-orang disekeliling. Ada beberapa ekspresi wajah yang berusaha dibaca oleh pandangannya terhadap orang-orang itu. Gurat wajah dongkol, santai, bosan, ceria yang sepertinya ia temukan di sana. Dalam posisi berdiri karena tak ada tempat lagi untuk duduk ia berusaha menata hati dan mencoba melatih tingkat kesabaran. jiwanya terpanggil untuk berucap syukur sebab akal telah mengkoordinasi hati, agar jiwa terlatih seraya mencerdaskan spiritualnya. Sambil menunggu mobil angkot melintas, tiba-tiba hp-nya berdering. Satu pesan dari nomor baru yang semalam mengirim pesan nasihat.

“Bismillah, jika dakwah adalah jalan yang panjang, jangan pernah berhenti sebelum menemukan penghujungnya. Jika dakwah beban beratnya, jangan minta yang ringan tapi mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya. jika dakwah punggungnya sedikit, maka jadilah yang sedikit itu. Dimanapun kaki kita berpijak, disitulah kita amar ma’ruf nahi munkar. Keep istiqomah!”
Tak lama ia selesai membaca pesan itu tiba-tiba sebuah mobil angkot berhenti di depannya. Para penumpang berhambur rebutan masuk. Untung saat itu pintu masuk mobil berpas-pasan tepat pada posisi tempatnya berdiri sejak tadi, sehingga ia dapat segera masuk tanpa ikut berdesak-desakkan.

“Alhamdulillah” ujar safirah dalam hati. Ia menemukan posisi yang nyaman untuk duduk. Saat semua ruang telah dipenuhi penumpang, mobilpun melaju dengan kecepatan standar.
***

Adzan Ashar berkmandang. Agenda perkuliahanpun telah usai. Safirah memutuskan untuk pulang lebih awal. Kali ini ia memilih izin untuk tidak ikut rapat ba’da ashar nanti. Sebuah SMS singkat dari ibunya yang meminta safirah segera pulang masih terus melekat dalam ingatan. Ada rasa penasaran dan sikap cemas yang menyatu. sebab ibunya hanya mengirimkan sebuah pesan singkat tanpa pernah mengubris balasan sms darinya. Dengan hati galau dan pikiran berkecamuk, ia terus melangkah menuju mesjid kampus dan menunaikan shalat ashar berjama’ah. Usai shalat ia bergegas pulang dan menaiki angkot jurusan kampungnya yang biasa ia tumpangi. Selang beberapa jam safirah telah sampai dirumah.

“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” serentak seisi rumah menjawab salam safirah yang tengah berdiri di dekat daun pintu yang terbuka lebar.
“kemari nak ada yang ingin ibu dan bapak sampaikan” perintah ibunya yang mengayunkan tangan pertanda meminta safirah untuk duduk di dekat sang ibu. safirahpun perlahan melangkahkan kaki dan duduk di samping ibunya. Jantungnya berdegub kencang saat ia sadar ibu dan bapak memandanginya lekat-lekat.
“firah, kamu tahu tabiat bapak kan? Bapak memang keras padamu, tetapi kamu tentu tahu tak ada orang tua di dunia ini yang menginginkan keburukan untuk anaknya. Begitupun bapak dan ibu yang selalu menginginkan yang terbaik, termasuk jaminan masa depanmu.” Ucap bapaknya mengawali pembicaraan.
“iya pak, insyaAllah firah sangat tahu” ujar safirah dengan nada setangah datar.
“Bagus kalau kamu paham. Kamu tentu kenal dengan pak santoso yang kemarin pernah berkunjung saat lebaran kemarin” ujar bapaknya menyambung pembicaraan dengan raut wajah serius.
“iya pak firah masih ingat. Pak santoso pengusaha sukses pemilik usaha properti itu kan? Ada apa dengan pak santoso?”
“Iya! Fira, Pak Santoso dan kami sudah berjanji akan mengikat hubungan keluarga. kami sudah memutuskan untuk… untuk…” Tiba-tiba ibunya tak mampu meneruskan pembicaraan.
“Sudahlah bu, tidak perlu berbelit-belit, fira itu sudah dewasa. Fira kamu akan ayah jodohkan dengan anak pak santoso yang bernama Roy. Dia anak sulung yang akan mewarisi usaha ayahnya. sehingga kami merasa dia memang pantas untukmu dan mampu menjamin masa depanmu. kamu pasti paham ayah tidak suka ditentang. dan keputusan ayah sudah bulat” Sahut bapaknya dengan tegas dan pergi berlalu tanpa menghiraukan safira yang hendak ingin memprotes keputusan sepihak dari bapaknya. Fira menangis sejadi-jadinya dipangkuan ibu. Ia protes kepada ibunya, namun ibunya tak mampu berbuat apa-apa. Bapaknya adalah seorang yang teguh pendirian dan otoriter. Hari itu ia merasa seolah langit akan runtuh menempanya. dinding-dinding seolah akan menghimpitnya. Ia teringat masa-masa SD hingga SMP sifat roy yang brutal, perokok, pembuat onar dan pernah kedapatan guru terlibat pesta khamar, meskipun tak terbukti roy ikut menyentuh benda haram itu. Terasa ngeri ia mengingat semua itu, namun ia berusaha dengan jiwa dan raganya pasrah kepada kehendak Allah. Dia yakin Allah pasti akan menolongnya.
***
Seluruh makhluk bertasbih. Seisi jagat raya bekerja menurut ketetapan-Nya. Bumi tempat bernaung, seolah tak henti-hentinya berputar. Beginilah Allah pencipta perkara. Hingga sang waktu tak basa-basi bergerak maju seiring siang dan malam yang saling kejar-kejaran, silih berganti tak pernah menyatu. Hingga detik, menit, jam, bahkan bulan berlalu. Sudah 2 bulan tanpa terasa pemilik nomor tanpa nama itu, setiap harinya selalu setia mengirimkan sms pesan-pesan nasehat, taujiah, firman Allah, hadits, atau fatwa-fatwa ulama yang berusaha safirah amalkan, resapi, dan telaah, tanpa ada konvensasi balik darinya. Usai shalat isya, fira tengah hanyut dalam bacaan ayat-ayat Allah yang ia lantunkan. Terdengar fasih dan lirih bagai sedang meresap dengan penuh penghayatan. Tiba-tiba konsentrasinya buyar tatkala hp-nya berdering dan diliriknya sebuah pesan dari nomor yang sama. ia membukanya,
“dg dug…dug” tiba-tiba jantung safirah berdegub kencang tak karuan. Suhu badannya dalam sekejab naik. Panas, keringat dingin bercampur padu. Entahlah aliran darahnya terasa tak beraturan. Sejenak bibirnya keluh. Spontan tubuhnya tak bergeming. Pesan ini lain daripada biasanya. SMS yang semula berisi pesan-pesan dakwah, sekarang terasa lain dan asing yang membuat seolah nyawanya tercabut sementara. yang isinya,
“Assalamu’alaikum, wr, wb. afwan ukhti, ana yakin sms ini akan mengusik anti. tetapi hal inipun harus ana katakan. Mungkin cara ana kurang tepat, tetapi demi Allah ana hanya ingin mencari kemuliaan Allah dengan menjalankan salah satu sunnah Rasulullah yang diperintahkan Allah. yaitu menikah! Jika anti berkenan ana ingin menghitbah anti menjadi pasangan hidup ana.”
Hati safirah galau. Ia tidak menyangka bahwa pemilik nomor tersebut adalah seorang ikhwan. Seolah fitnah yang datang ini, mencoba menguji keimanannya. Namun ia berusaha untuk tidak menggubris. Ia yakin bahwa ini adalah sebuah guyonan dari seorang yang iseng padanya. iapun berusaha menata hati agar tidak terusik dengan sms itu.
Tiba-tiba sms kedua masuk lagi dari nomor yang sama. Ia tak mampu mengurungkan niat untuk membaca sms itu.
“Af1 ukhti, ana rahmat. Ana sudah banyak mencari tahu tentang diri anti dari saudara-saudara ana. Ana sudah meyakinkan diri ana untuk menghitbah anti karena ana merasa antilah orang yang tepat untuk ana hitbah. Ana sudah membicarakan hal ini dengan murobbi ana. dan insyaAllah besok murobbi ana akan membahas hal ini dengan murobbi anti. Ukhti ana hanya berusaha menjaga kesucian ini dengan memberanikan diri ana untuk menghitbah anti. Ana yakin anti orang yang sangat paham. Segalanya ana serahkan kepada Allah ukh. Termasuk apapun keputusan anti insyaAllah akan ana terima. jazakillah ukh wassalamu’alaikum!”
Hatinya mulai gamang. Ada keresahan menghimpit rongga dadanya.Ia berusaha merajut kembali serpihan-serpihan kegelisahan yang bersemayam dalam hati. Antara percaya atau tidak. Ia semakin bimbang. Otaknya berpikir keras. Hatinya terus bergumam.
“Ya Allah apakah ini benar? Ya Allah dekatkanlah kebenaran itu kepada hamba. Sesungguhnya hamba berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau ketahui.”
“Ya Allah siapakah rahmat ini? lalu bagaimana dengan orang yang dijodohkan ayah denganku? ya Allah..harus bagaimana hamba menyikapinya?” Ujar safirah penuh harap dalam hati.
***
Hari demi hari, seiring bertandangnya keluarga roy ke rumah safira, yang bermaksud membicarakan rencana perjodohan itu. Namun sepertinya roy tak ikut serta bersama kedua orang tuanya, dengan alasan roy sibuk kuliah. Sebuah ungkapan pernyataan yang mengundang selaksa tanya. Apakah roy benar-benar sibuk kuliah ataukah ia juga tak menginginkan pernikahan ini. Ada sedikit embun mengguyur hatinya. Hanya sementara mnyejukkan hati, tiba-tiba ia tercengang dengan keputusan keluarga roy yang langsung disepakati oleh kedua orang tuanya. Di luar dugaan, ternyata waktu pernikahan ditetapkan dalam jangka waktu yang sangat dekat. Safirah semakin kalut tatkala waktu pernikahannya ditetapkan, tibalah sebuah sms dari seorang ikhwan yang lebih bisa diharapkan menjadi imamnya ketimbang harus diperistri oleh seorang pria brutal tak karuan seperti roy. sebuah pernyataan yang mengejutkan ia terima lewat pesan sms itu.
“Assalamu’alaikum, afwan ukhti ana tak bermaksud untuk mempermainkan anti. 2 hari yang lalu di luar sepengetahuan ana, ternyata orang tua ana sudah melamarkan seorang gadis untuk ana nikahi. Demi Allah sebelumnya ana tidak diberitahu, sehingga ana memberanikan diri menghitbah anti. Ana hanyalah seorang anak yang hanya berusaha mencari ridho Allah. Ana tak menginginkan hal ini, tetapi apa jadinya pandangan Allah terhadap ana jika ana tak mengindahkan permintaan orangtuanya ana. Ana takut murka Allah akan menghujam ana. Afwan ukhti, insyaAllah setelah ini anti tidak akan mendapati sms dari ana, sebab ana tak akan mengirim sms ke anti lagi. afwan… wassalamu’alaikum! rahmat”
Ada tetesan air bening yang keluar dari riak mata. Dadanya sesak. peluh dan pilu menyatu. Duka yang berselimut gundah, tak mampu ia sembunyikan. ia seperti kehilangan harapan untuk meneguhkan jihad, agama dan imannya. Ditengah duka, ia berusaha memulihkan kesadaran penuh untuk menggantungkan segalanya kepada Rabb penguasa kehidupan. Namun apalah daya, ditengah harapan pada Rabbnya ia masih tersungkur dalam kesedihan yang mendalam terlebih waktu pernikahan itu telah sangat dekat. Hingga tibalah hari di mana batinnya semakin tercekam. Para perias dibuat kewalahan oleh mata yang mengelu-elukan pemberontakan jiwa. Air bening yang mengguyur seolah tak kenal henti, memudarkan riasan rona wajah cantik pengantin. Tangisan itu semakin menjadi tatkala diluar sana telah berkumandang ijab Qabul yang diucapkan dengan lantang dan tegas. Hingga terdengar pijakan kaki yang datang menghampiri dengan berani duduk di sampingnya. Safira hanya tertunduk. tak berani memandang wajah itu. Namun ia rasakan sebuah sentuhan belaian lembut menyentuh dagu, memaksanya untuk menengadahkan wajah. Jantungnya semakin tak beraturan. Tiba-tiba matanya tepat menangkap dua bayangan bola mata dihadapannya. Air mata pun menetes tatkala memandang dua bola mata yang teduh. Tak sadar mata itu menjelajahi seluruh pusaran wajah. Ada jenggot tipis di dagunya yang membuat fira semakin terharu dan berucap syukur tak henti-hentinya kepada Sang Maha rahman dan rahim. Ternyata suaminya adalah seorang ikhwan yang sudah 4 tahun berhijrah bergelut dalam dakwah. Dan beberapa hari setelah menikah barulah terkuak bahwa ikhwan yang selama ini mengirim pesan-pesan dakwah yang kemudian menjadi pesan-pesan hitbah adalah Roy Rahmatullah suaminya yang dulu dijodohkan secara paksa dengannya. Akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan cara yang indah, dan mereka hidup menjadi pasangan yang sakinah, mawadah, warahmah, dan saling meneguhkan jihad fisabilillah.
*SEKIAN*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar