“Tidak penting seorang perempuan itu bekerja atau tidak, karena fitrahnya tetap mengurus rumah tangga!”
Begitu kata guru paruh baya yang duduk di sebelah. Sepertinya ia sangat menyimak ucapanku sebelumnya. Sesaat ada rasa bersalah di dalam diri. Tersebab tak pandai mengurus rumah, dan lebih banyak bekerja di luar. Aku mengangguk pelan. Mempersiapkan kuping ini untuk kembali mendengar nasehat berikutnya.
“Ibu pernah tinggal di rumah pemilik Toko ATK terbesar dan terlengkap di gorontalo saat ini. Ibu kenal dekat dengan istrinya, kak Nun. Mereka orang yang sangat menjaga shalat shubuh. Dulu belum ada toko, suaminya hanya penjual ikan batu. Dan kak nun sendiri bekerja sebagai bendahara perusahaan motor terbesar di gorontalo dengan gaji yang lumayan tinggi. Tapi akhirnya, kak nun memutuskan untuk berhenti dari jabatannya. Hari gini, melepas pekerjaan? nyari kerja aja susah.” Aku semakin tertarik. Menghentikan pekerjaanku sejenak. Menengok ke samping dan menatapnya serius. Ia melanjutkan lagi.
“Kamu tahu nak, alasannya apa?” Sorot mata itu seperti sedang menebak-nebak jawabanku.
“Mungkin ingin jadi ibu rumah tangga, Bu.” aku melempar jawab seenaknya.
“Tidak hanya itu. Kamu tahu pekerjaan bendahara mengatur anggaran. Iya kan?”
“Iya” jawabku singkat.
“Kak nun berhenti dari pekerjaannya karena di suruh untuk memanipulasi anggaran. Ia tidak ingin melakukan itu. Ia berusaha untuk jujur. Jadi alasan utamanya akhlak” Hatiku berdecak kagum mendengar itu. Mataku berbinar-binar, ingin tahu kisah hebat selanjutnya. Aku memilih diam.
“Lantas ia memilih patungan dengan ibunya membeli mesin fotocopy yang beroperasi di dekat kampus. Dan kemudian berkembang sukses melebarkan sayap ke bisnis seragam, tas sekolah, ATK, dan keperluan kantor lainnya. Hingga memiliki puluhan karyawan. Sekarang suaminya yang mengurus usaha itu.” Senyumku mengembang. Ada rasa senang yang meluap-luap. Aku selalu menganggap kisah setiap orang yang menginspirasi itu mahal harganya. Bukan tidak mungkin, kisah-kisah seperti itu mampu menghidupkan jiwa yang putus asa, menyuburkan semangat, mengokohkan harapan, dan memekarkan kuncup-kuncup mimpi. Aku masih diam. Kata-kata itu seperti mantra-mantra bahagia yang menghipnotis seluruh saraf-sarafku.
Ada banyak hikmah yang bisa diurai di sini. Tentang akhlak kejujuran, kesuksesan, dan menguak rahasia tentang seorang perempuan hebat yang menghebatkan orang-orang disekitarnya. Aku lebih tertarik membahas bagian ketiga. Tak ada yang tahu kisah ini. Kisah kak nun dibalik nama besar toko itu. Banyak bisnis atau pekerjaan sukses lebih menyoroti siapa pimpinannya? apa pendidikan laki-laki itu? seberapa banyak pengalamannya? Namun tak ada yang bertanya, siapa istrinya? Tak ada yang mau tahu apa yang dilakukan seorang perempuan untuk keluarga dan kesuksesan suaminya.
Berkacalah saya dari Ibunda Khadijah istri Rasulullah yang sukses mendampingi perjuangan Nabi. Dikala Rasulullah gelisah, takut dan khawatir, Khadijah yang menghibur dan menguatkan. Saat tak ada satu orang pun yang percaya, Ibunda Khadijah yang pertama membenarkan dakwah Rasulullah. Jiwa, raga, harta dan waktu beliau korbankan untuk kesuksesan Rasulullah. Tersebab itulah, baginda Nabi adalah orang pertama yang sangat berduka saat beliau berpulang. Bahkan Rasulullah begitu marah ketika aisyah tak sengaja menghina karena cemburu pada khadijah. Karena Rasulullah masih menyebut-nyebut namanya serta memuji meskipun beliau sudah wafat. Sosok teladan khadijah bahkan sampai kapanpun tak bisa dilupakan Nabi.
Begitu pula halnya dengan pria paling cerdas di Negeri ini. Bacharuddin Jusuf Habibie, yang mengaku bahwa seharusnya istrinyalah yang menjadi pemimpin rumah tangga. Karena ibu Ainun yang memiliki peran dominan mengurus semuanya, bahkan menjadi penasehat yang utama dalam memberi pertimbangan terkait masalah-masalah urgen baik rumah tangga ataupun kenegaraan.
Atau istri ulama besar Buya Hamka yang rela menjual pakaiannya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari demi menjaga kehormatan suaminya agar bisa tampil prima dengan pakaian bagus saat berdakwah di depan umat.
Beberapa yang menjadi polemik bagi seorang wanita di era yang serba kompleks saat ini adalah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Hal inipun bahkan diperdebatkan. Sebab tuntutan seorang perempuan dalam dunia kerja patut dipertimbangkan. Ada hal-hal yang tak bisa diurus seorang pria, dan membutuhkan peran wanita di dalamnya. Lihatlah berbagai instansi, beberapa jabatan penting kerap diisi oleh sebagian besar perempuan-perempuan hebat yang karirnya melesat tinggi. Kontribusi yang lahir dari pikiran-pikiran perempuan bahkan tak jarang tepat sasaran. Tapi setinggi apa jabatan seorang wanita, sebesar apa kontribusinya terhadap masyarakat dan negara, sebanyak apa materi yang dihasilkan, seorang wanita tetap memiliki kewajiban sebagai istri dari laki-laki dan ibu dari seorang anak yang tanggungjawab itu tak bisa ditawar lagi. Hingga dunia ini pun hancur lebur, tak sedikitpun tugas itu luntur oleh zaman.
Masalahnya seorang wanita yang memilih berkarir di luar rumah harus menelan pahitnya kenyataan. Bahwa waktu yang harusnya didedikasikan untuk keluarga tersita begitu banyak karena pekerjaan di luar rumah. Belum lagi rapat-rapat penting yang harus dihadiri. Ketika sampai di rumah, bukannya melayani keluarga tapi pulang dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Akhirnya suami tak sempat diurus, anak terlantar, perkembangan pendidikannya tak sempat dipantau, dan rumah pun seperti kapal pecah. Memang kondisi ekonomi akan terbantu. Bahkan ada yang mampu menyewa pembantu dan pengasuh anak. Tentu saja tak sama halnya dengan mengurus sendiri rumah dan keluarga. Itu lebih menjaga eratnya hubungan kasih sayang, karena ada sosok yang menunggu dan menumpahkan segala perhatian di rumah. Mungkin inilah yang menjadi kekhawatiran pemerintah jepang terhadap generasinya. Banyak perusahaan-perusahaan jepang yang mensyaratkan karyawannya laki-laki dan istri-istrinya tetap di rumah mengurus anak dan suami. Atas penghargaan inilah, istri-istri mereka digaji separuh dari gaji suami. Enak bukan jadi istri orang jepang? (Hahaha, maunya wanita Indonesia pun begitu).
Menjadi seorang ibu rumah tangga tulen pun itu hal yang luar biasa. Tapi kadang penuh kekhawatiran. Dalam kehidupan sosial seperti diremehkan. Karena tak punya penghasilan juga tak banyak membantu keuangan keluarga. Harus bersabar dengan rejeki seadanya. Bersiap menahan diri untuk membeli barang-barang kesukaan untuk kebutuhan primer yang lebih mendesak setiap hari. Belum lagi jika wanita seorang lulusan sarjana atau magister. Harapan orang tua bertumpu padanya. Meski telah menikah, tetap harus bisa membantu saudara-saudara ketika nanti menghadapi masalah, utamanya dalam hal keuangan, pendidikan dan sebagainya. Apalagi, sekalipun tak pernah diminta, jika suaminya kelak dipanggil duluan sang Pencipta. Wanita yang tak punya pekerjaan dan memiliki anak-anak yang masih kecil pasti kebingungan. Siapa yang bisa diharapkan jika sudah demikian? Tentu perempuan harus memasang badan dan pikiran untuk menemukan cara menghidupi keluarganya seorang diri.
Semua hal yang aku paparkan di atas bukan hanya imajinasi belaka. Meski (ehem) aku bukan orang yang mengalaminya sendiri. Tapi bukankah Allah begitu baik. Ia hadirkan banyak perempuan-perempuan hebat disekelilingku, untuk memungut kisah-kisah mengagumkan yang tercecer dalam episode-episode hidup mereka. Kita tentu tak bisa merasakan semua hal yang dialami orang lain bukan?
Kemudian sampailah aku pada pemikiran pribadi, idealnya seorang wanita bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Bagaimana caranya? Terasa berat hati ini jika ada yang bertanya demikian. Sebab belum pantas memberi jawaban bijak.
Namun mungkin aku bisa mengisahkan sedikit tentang seorang wanita. Ketangguhannya menyeretku untuk diam-diam mengagumi. Sulit mengungkapkan barometer apa yang pantas untuk mengukur besarnya jasa beliau. Wanita yang melahirkan 6 anak, bekerja, mengasuh, dan memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Bahkan jasanya begitu dirasakan oleh suaminya sendiri. Suatu hari suaminya pernah berkata.
“Jika nanti, ada diantara kita yang dipanggil oleh-Nya. Aku berharap lebih dulu dipanggil. Karena selama ini kamulah yang berjuang untuk anak-anak dan pendidikan mereka.” Wanita itu berkisah dengan mata berkaca-kaca. Air mataku ikut menetes.
Tahukah wanita itu hanya lulusan SD, tapi perhatiannya pada keluarga jauh melampui pemikiran lulusan SD. Aku masih ingat kata-katanya,
“Ibu tak punya harta untuk diwariskan. Tapi untuk masa depan anak-anak, ibu hanya bisa mengusahakan pendidikan yang lebih baik”
Wanita itu memilih bekerja menerima jasa menjahit pakaian di rumah sekaligus mengurus suami dan anak. Hebatnya, ia yang membiayai pendidikan, baju sekolah, dan perlengkapan lainnya. Ia rela lupa makan dan bekerja hingga larut malam saat semuanya tertidur pulas hanya untuk kebutuhan anak-anaknya. Bahkan ketika suaminya harus diponis istirahat selama 6 bulan dan tidak boleh bekerja lagi, ia ikhlas mengambil alih tanggungjawab suami sebagai kepala rumah tangga, memberi makan hingga kebutuhan yang lebih besar.
Masalah pendidikan anak-anaknya, tak perlu diragukan lagi. Ia memang hanya lulusan SD, tapi perhatian kepada anak-anaknya begitu besar. Saat sang anak terlambat pulang sekolah, ia gelisah. Ia tinggalkan pekerjaan, mencari dan memastikan anak-anaknya baik-baik saja. Saat sang anak menempuh ujian sekolah, sebelum shubuh, wanita itu sudah berkutat didapur dengan bumbu-bumbu sederhana menyiapkan bubur hangat, agar fisik sang anak siap mengikuti ujian. Pulang sekolah, ia pun tak pernah lupa bertanya satu hal yang akrab di telinga anaknya.
“Bagaimana ujian tadi? bisa dijawab?”
Saat anak lupa mengerjakan tugas sekolah, ia yang mengingatkan. Mengintip aktivitas anak-anaknya di dalam kamar ketika malam hari. Dan banyak perhatian yang ia curahkan untuk keluarga. Meski sebagai wanita biasa banyak pula kekurangan dan keterbatasannya. Kini puluhan tahun berlalu, anak-anaknya bertumbuh dewasa. Sebagian telah menyelesaikan pendidikan yang terbaik di sebuah kampus dan yang lainnya telah bekerja di sebuah instansi sebagai pegawai negeri sipil. Jika seorang wanita dengan keterbatasan pendidikan mampu berpikir dan melakukan hal demikian, bagaimana halnya dengan seorang wanita sarjana atau magister? Tentu harapannya akan lebih dari itu.
Tahun 2013 kemarin, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menulis berita lewat akun Facebook dan website resmi tentang seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berhasil meraih ujian nasional terbaik se-Indonesia dengan rata-rata semua pelajaran di atas 95. Setelah ditelusuri ternyata ibunya adalah seorang lulusan magister yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Luar biasa bukan?
Ingatkah kita dengan sebuah ungkapan bijak, “jika ingin menghancurkan sebuah negeri, maka hancurkanlah wanitanya”, sebab wanita adalah tonggak peradaban, menyimpan kekuatan dahsyat yang menghebatkan orang-orang disekitarnya.
Tentu saja aku sangat mengenal ibu lulusan SD tadi. Ibu itu adalah wanita yang telah melahirkanku. Aku sangat bangga memiliki mereka ^_^
Catatan ini dibuat sekedar mengungkapkan banyak hal yang menginspirasi di luar sana. Tak ada maksud ata niat apapun. Silakan kritik dan saran bersifat terbuka. Sejujurnya ini hanya ditulis personal oleh orang yang miskin pengalaman. Namun ini juga sebagian besar disimpilkan dari hasil diskusi dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam hidupnya. Mohon maaf bila ada yang keliru dalam penyampaiannya. Terima kasih
Begitu kata guru paruh baya yang duduk di sebelah. Sepertinya ia sangat menyimak ucapanku sebelumnya. Sesaat ada rasa bersalah di dalam diri. Tersebab tak pandai mengurus rumah, dan lebih banyak bekerja di luar. Aku mengangguk pelan. Mempersiapkan kuping ini untuk kembali mendengar nasehat berikutnya.
“Ibu pernah tinggal di rumah pemilik Toko ATK terbesar dan terlengkap di gorontalo saat ini. Ibu kenal dekat dengan istrinya, kak Nun. Mereka orang yang sangat menjaga shalat shubuh. Dulu belum ada toko, suaminya hanya penjual ikan batu. Dan kak nun sendiri bekerja sebagai bendahara perusahaan motor terbesar di gorontalo dengan gaji yang lumayan tinggi. Tapi akhirnya, kak nun memutuskan untuk berhenti dari jabatannya. Hari gini, melepas pekerjaan? nyari kerja aja susah.” Aku semakin tertarik. Menghentikan pekerjaanku sejenak. Menengok ke samping dan menatapnya serius. Ia melanjutkan lagi.
“Kamu tahu nak, alasannya apa?” Sorot mata itu seperti sedang menebak-nebak jawabanku.
“Mungkin ingin jadi ibu rumah tangga, Bu.” aku melempar jawab seenaknya.
“Tidak hanya itu. Kamu tahu pekerjaan bendahara mengatur anggaran. Iya kan?”
“Iya” jawabku singkat.
“Kak nun berhenti dari pekerjaannya karena di suruh untuk memanipulasi anggaran. Ia tidak ingin melakukan itu. Ia berusaha untuk jujur. Jadi alasan utamanya akhlak” Hatiku berdecak kagum mendengar itu. Mataku berbinar-binar, ingin tahu kisah hebat selanjutnya. Aku memilih diam.
“Lantas ia memilih patungan dengan ibunya membeli mesin fotocopy yang beroperasi di dekat kampus. Dan kemudian berkembang sukses melebarkan sayap ke bisnis seragam, tas sekolah, ATK, dan keperluan kantor lainnya. Hingga memiliki puluhan karyawan. Sekarang suaminya yang mengurus usaha itu.” Senyumku mengembang. Ada rasa senang yang meluap-luap. Aku selalu menganggap kisah setiap orang yang menginspirasi itu mahal harganya. Bukan tidak mungkin, kisah-kisah seperti itu mampu menghidupkan jiwa yang putus asa, menyuburkan semangat, mengokohkan harapan, dan memekarkan kuncup-kuncup mimpi. Aku masih diam. Kata-kata itu seperti mantra-mantra bahagia yang menghipnotis seluruh saraf-sarafku.
Ada banyak hikmah yang bisa diurai di sini. Tentang akhlak kejujuran, kesuksesan, dan menguak rahasia tentang seorang perempuan hebat yang menghebatkan orang-orang disekitarnya. Aku lebih tertarik membahas bagian ketiga. Tak ada yang tahu kisah ini. Kisah kak nun dibalik nama besar toko itu. Banyak bisnis atau pekerjaan sukses lebih menyoroti siapa pimpinannya? apa pendidikan laki-laki itu? seberapa banyak pengalamannya? Namun tak ada yang bertanya, siapa istrinya? Tak ada yang mau tahu apa yang dilakukan seorang perempuan untuk keluarga dan kesuksesan suaminya.
Berkacalah saya dari Ibunda Khadijah istri Rasulullah yang sukses mendampingi perjuangan Nabi. Dikala Rasulullah gelisah, takut dan khawatir, Khadijah yang menghibur dan menguatkan. Saat tak ada satu orang pun yang percaya, Ibunda Khadijah yang pertama membenarkan dakwah Rasulullah. Jiwa, raga, harta dan waktu beliau korbankan untuk kesuksesan Rasulullah. Tersebab itulah, baginda Nabi adalah orang pertama yang sangat berduka saat beliau berpulang. Bahkan Rasulullah begitu marah ketika aisyah tak sengaja menghina karena cemburu pada khadijah. Karena Rasulullah masih menyebut-nyebut namanya serta memuji meskipun beliau sudah wafat. Sosok teladan khadijah bahkan sampai kapanpun tak bisa dilupakan Nabi.
Begitu pula halnya dengan pria paling cerdas di Negeri ini. Bacharuddin Jusuf Habibie, yang mengaku bahwa seharusnya istrinyalah yang menjadi pemimpin rumah tangga. Karena ibu Ainun yang memiliki peran dominan mengurus semuanya, bahkan menjadi penasehat yang utama dalam memberi pertimbangan terkait masalah-masalah urgen baik rumah tangga ataupun kenegaraan.
Atau istri ulama besar Buya Hamka yang rela menjual pakaiannya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari demi menjaga kehormatan suaminya agar bisa tampil prima dengan pakaian bagus saat berdakwah di depan umat.
Beberapa yang menjadi polemik bagi seorang wanita di era yang serba kompleks saat ini adalah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Hal inipun bahkan diperdebatkan. Sebab tuntutan seorang perempuan dalam dunia kerja patut dipertimbangkan. Ada hal-hal yang tak bisa diurus seorang pria, dan membutuhkan peran wanita di dalamnya. Lihatlah berbagai instansi, beberapa jabatan penting kerap diisi oleh sebagian besar perempuan-perempuan hebat yang karirnya melesat tinggi. Kontribusi yang lahir dari pikiran-pikiran perempuan bahkan tak jarang tepat sasaran. Tapi setinggi apa jabatan seorang wanita, sebesar apa kontribusinya terhadap masyarakat dan negara, sebanyak apa materi yang dihasilkan, seorang wanita tetap memiliki kewajiban sebagai istri dari laki-laki dan ibu dari seorang anak yang tanggungjawab itu tak bisa ditawar lagi. Hingga dunia ini pun hancur lebur, tak sedikitpun tugas itu luntur oleh zaman.
Masalahnya seorang wanita yang memilih berkarir di luar rumah harus menelan pahitnya kenyataan. Bahwa waktu yang harusnya didedikasikan untuk keluarga tersita begitu banyak karena pekerjaan di luar rumah. Belum lagi rapat-rapat penting yang harus dihadiri. Ketika sampai di rumah, bukannya melayani keluarga tapi pulang dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Akhirnya suami tak sempat diurus, anak terlantar, perkembangan pendidikannya tak sempat dipantau, dan rumah pun seperti kapal pecah. Memang kondisi ekonomi akan terbantu. Bahkan ada yang mampu menyewa pembantu dan pengasuh anak. Tentu saja tak sama halnya dengan mengurus sendiri rumah dan keluarga. Itu lebih menjaga eratnya hubungan kasih sayang, karena ada sosok yang menunggu dan menumpahkan segala perhatian di rumah. Mungkin inilah yang menjadi kekhawatiran pemerintah jepang terhadap generasinya. Banyak perusahaan-perusahaan jepang yang mensyaratkan karyawannya laki-laki dan istri-istrinya tetap di rumah mengurus anak dan suami. Atas penghargaan inilah, istri-istri mereka digaji separuh dari gaji suami. Enak bukan jadi istri orang jepang? (Hahaha, maunya wanita Indonesia pun begitu).
Menjadi seorang ibu rumah tangga tulen pun itu hal yang luar biasa. Tapi kadang penuh kekhawatiran. Dalam kehidupan sosial seperti diremehkan. Karena tak punya penghasilan juga tak banyak membantu keuangan keluarga. Harus bersabar dengan rejeki seadanya. Bersiap menahan diri untuk membeli barang-barang kesukaan untuk kebutuhan primer yang lebih mendesak setiap hari. Belum lagi jika wanita seorang lulusan sarjana atau magister. Harapan orang tua bertumpu padanya. Meski telah menikah, tetap harus bisa membantu saudara-saudara ketika nanti menghadapi masalah, utamanya dalam hal keuangan, pendidikan dan sebagainya. Apalagi, sekalipun tak pernah diminta, jika suaminya kelak dipanggil duluan sang Pencipta. Wanita yang tak punya pekerjaan dan memiliki anak-anak yang masih kecil pasti kebingungan. Siapa yang bisa diharapkan jika sudah demikian? Tentu perempuan harus memasang badan dan pikiran untuk menemukan cara menghidupi keluarganya seorang diri.
Semua hal yang aku paparkan di atas bukan hanya imajinasi belaka. Meski (ehem) aku bukan orang yang mengalaminya sendiri. Tapi bukankah Allah begitu baik. Ia hadirkan banyak perempuan-perempuan hebat disekelilingku, untuk memungut kisah-kisah mengagumkan yang tercecer dalam episode-episode hidup mereka. Kita tentu tak bisa merasakan semua hal yang dialami orang lain bukan?
Kemudian sampailah aku pada pemikiran pribadi, idealnya seorang wanita bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Bagaimana caranya? Terasa berat hati ini jika ada yang bertanya demikian. Sebab belum pantas memberi jawaban bijak.
Namun mungkin aku bisa mengisahkan sedikit tentang seorang wanita. Ketangguhannya menyeretku untuk diam-diam mengagumi. Sulit mengungkapkan barometer apa yang pantas untuk mengukur besarnya jasa beliau. Wanita yang melahirkan 6 anak, bekerja, mengasuh, dan memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya. Bahkan jasanya begitu dirasakan oleh suaminya sendiri. Suatu hari suaminya pernah berkata.
“Jika nanti, ada diantara kita yang dipanggil oleh-Nya. Aku berharap lebih dulu dipanggil. Karena selama ini kamulah yang berjuang untuk anak-anak dan pendidikan mereka.” Wanita itu berkisah dengan mata berkaca-kaca. Air mataku ikut menetes.
Tahukah wanita itu hanya lulusan SD, tapi perhatiannya pada keluarga jauh melampui pemikiran lulusan SD. Aku masih ingat kata-katanya,
“Ibu tak punya harta untuk diwariskan. Tapi untuk masa depan anak-anak, ibu hanya bisa mengusahakan pendidikan yang lebih baik”
Wanita itu memilih bekerja menerima jasa menjahit pakaian di rumah sekaligus mengurus suami dan anak. Hebatnya, ia yang membiayai pendidikan, baju sekolah, dan perlengkapan lainnya. Ia rela lupa makan dan bekerja hingga larut malam saat semuanya tertidur pulas hanya untuk kebutuhan anak-anaknya. Bahkan ketika suaminya harus diponis istirahat selama 6 bulan dan tidak boleh bekerja lagi, ia ikhlas mengambil alih tanggungjawab suami sebagai kepala rumah tangga, memberi makan hingga kebutuhan yang lebih besar.
Masalah pendidikan anak-anaknya, tak perlu diragukan lagi. Ia memang hanya lulusan SD, tapi perhatian kepada anak-anaknya begitu besar. Saat sang anak terlambat pulang sekolah, ia gelisah. Ia tinggalkan pekerjaan, mencari dan memastikan anak-anaknya baik-baik saja. Saat sang anak menempuh ujian sekolah, sebelum shubuh, wanita itu sudah berkutat didapur dengan bumbu-bumbu sederhana menyiapkan bubur hangat, agar fisik sang anak siap mengikuti ujian. Pulang sekolah, ia pun tak pernah lupa bertanya satu hal yang akrab di telinga anaknya.
“Bagaimana ujian tadi? bisa dijawab?”
Saat anak lupa mengerjakan tugas sekolah, ia yang mengingatkan. Mengintip aktivitas anak-anaknya di dalam kamar ketika malam hari. Dan banyak perhatian yang ia curahkan untuk keluarga. Meski sebagai wanita biasa banyak pula kekurangan dan keterbatasannya. Kini puluhan tahun berlalu, anak-anaknya bertumbuh dewasa. Sebagian telah menyelesaikan pendidikan yang terbaik di sebuah kampus dan yang lainnya telah bekerja di sebuah instansi sebagai pegawai negeri sipil. Jika seorang wanita dengan keterbatasan pendidikan mampu berpikir dan melakukan hal demikian, bagaimana halnya dengan seorang wanita sarjana atau magister? Tentu harapannya akan lebih dari itu.
Tahun 2013 kemarin, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menulis berita lewat akun Facebook dan website resmi tentang seorang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berhasil meraih ujian nasional terbaik se-Indonesia dengan rata-rata semua pelajaran di atas 95. Setelah ditelusuri ternyata ibunya adalah seorang lulusan magister yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Luar biasa bukan?
Ingatkah kita dengan sebuah ungkapan bijak, “jika ingin menghancurkan sebuah negeri, maka hancurkanlah wanitanya”, sebab wanita adalah tonggak peradaban, menyimpan kekuatan dahsyat yang menghebatkan orang-orang disekitarnya.
Tentu saja aku sangat mengenal ibu lulusan SD tadi. Ibu itu adalah wanita yang telah melahirkanku. Aku sangat bangga memiliki mereka ^_^
Catatan ini dibuat sekedar mengungkapkan banyak hal yang menginspirasi di luar sana. Tak ada maksud ata niat apapun. Silakan kritik dan saran bersifat terbuka. Sejujurnya ini hanya ditulis personal oleh orang yang miskin pengalaman. Namun ini juga sebagian besar disimpilkan dari hasil diskusi dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam hidupnya. Mohon maaf bila ada yang keliru dalam penyampaiannya. Terima kasih








0 komentar:
Posting Komentar