Assalamu’alaykum wr. wb.
Pembaca yang budiman.
Kita
akan membahas tentang berbagai pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa dalam
kajian ilmu filsafat. Masih tetap dengan dosen kami yang humoris yaitu bapak
Prof Marsigit. Artikel ini merangkum beberapa pertanyaan kami kepada beliau.
Alhamdulillah jawabannya sangat mengena, padat dan berisi, pun mudah dipahami.
Seperti biasa, tulisan ini selain memuat pembahasan beliau secara langsung,
juga dijabarkan berdasarkan pemikiraan saya yang sederhana. Namun harapannya
semoga apa yang tertuang disini menjadi bermanfaat dan berkah. Bukankah yang
sedikit jika berkah akan berlimpah manfaatnya?
Pertanyaan pertama dari saya kepada prof marsigit yaitu
seperti apa batas kemampuan kita menurut ilmu filsafat. Beliau menjelaskan bahwa supaya kamu tahu
batas kemampuanmu, maka bergaulah dengan manusia. Maka itu yang disebut
hermenetika. Maka sebenar-benarnya hidup adalah hermenetika. Hermenetika itu
filsafat kalau diturunkan ke pembelajaran jadi interaksi, naik sedikit
dimensinya jadi silaturahmi.
Saya memahami penjelasan beliau sebagai suatu nasehat.
Mengapa? Batas kemampuan itu punya tolak ukur dan acuan. Acuannya ada pada kita
memahami diri sendiri dan bagaimana orang lain memahami kita. Tentunya dalam
sebuah interaksi kita selalu menjadikan orang lain sebagai tolak ukur. Ya,
memang fitrahnya seperti itu, bahkan dalam agama islam Rasulullah saw mengatakan
jika kamu ingin melihat dirimu maka lihatlah orang-orang disekitarmu. Artinya
kemampuan kita berdasarkan hasil interaksi dengan orang lain. Potensi-potensi
yang kita miliki sebelumnya tak pernah ada, namun berkat interaksi maka menjadi
ada. Orang-orang disekitar kita itulah pengada bagi kemampuan yang kita miliki.
Sederhananya, saya tidak pernah mempelajari tentang epoke, namun berkat
berinteraksi dengan pak marsigit melalui perkuliahan maka saya memiliki
kemampuan untuk memahami epoke dan memaksimalkan potensi epoke itu dalam diri
saya. Itulah buah dari kepahaman yang bersinggungan dengan interaksi.
Selanjutnya
pertanyaan dari Habibullah tentang pola pikir dan olah bahasa dalam filsafat.
Beliau menjawab bahwa setiap orang bisa mendefinikan filsafat, dan setiap orang
bisa mendefinikan matematika. Maka sebenar-benarnya pendidikan adalah
memerdekakan diri. Sebenar-benarnya filsafat adalah penjelasanmu,
sebenar-benarnya filsafat adalah baca, baca dan baca.
Sejauh
saya menangkap penjelasan beliau dalam perkuliahan bahwa ketika kita berfikir
sebenarnya kita telah mulai berfilsafat. Hanya saja dalam filsafat memiliki
level atau tingkatan yang berbeda. Kalau saya masih berpikir biasa atau bahasa
filsafat paling dasar hehe. Apapun yang kita pikirkan tentang kehidupan, fenomena
atau anomena secara kritis dan mendasar maka sebenarnya kita sudah menceburkan
diri dalam lautan filsafat hingga kita akan terus berenang ke bagian yang
paling dalam dan kemudian menjadi begitu skeptis, meragukan banyak hal dan
selalu bertanya-tanya tentang ini dan itu. Kekuatan filsafat itu sendiri ada
pada olah pikir dan pemilihan bahasa yang dipakai. Pikiran kita akan
menghasilkan sebuah argumentasi, entah mengemukakan alasan, solusi atau
mempertanyakan banyak hal. Jadi jangan heran jika belajar filsafat otak kita
sering kacau hehehe. Sebab pembahasan sesuatu yang tidak sampai pada pemahaman
kita akan menciptakan kebingungan yang besar. Namun jika kebingungan itu
benar-benar terjadi maka berarti kita sudah mencapai dimensi yang lebih tinggi
terhadap esensi tujuan filsafat sebenarnya.
Seorang teman menanyakan tentang substansi doa. Bapak
Prof Marsigit mengatakan berdoa yang paling tinggi adalah menyebut dan
memanggil nama Tuhan. Jika dipanggil maka Dia dekat dan tidak berjarak. Tuhan
itu Maha mendengar. Dunia punya gurunya dan spiritual ada gurunya. Kalau kita
ingin mengerti Tuhan maka mudah sekali. Jika mudah maka mudah sekali dan jika
sulit maka sulit sekali. Maka jika ingin mengerti Tuhan sadarilah
aturan-aturanNya. Misal kamu naik motor sembarangan, maka hukum tidak menaati
aturan lalau lintas yaitu menabrak. Itulah
hukum Tuhan. Kita berjarak hanya karena kita sendiri yang membuat jarak. Sehingga
ada hadits jika aku berjalan mendekatiNya maka Tuhan akan berlari mendekatiku.
Beliau
juga menjelaskan pada ranah tertentu manusia itu setinggi-tinggi derajat adalah
orang yang menyesuaikan ruang dan waktunya. Bahwa bertemu orang tua, cucu dan
sebagainya sesuai ruang dan waktu. Masing-masing memiliki karakter dan sifat. Maka
di sini sopan dan santun menjadi tinggi derajatnya. Godaanmu adalah godaan
paham. Jika kamu gak bertanya maka kamu terkena mitos, sudah tidak mampu
berpikir.
Dalam
pembahasan yang lain beliau juga menyampaikan bahwa sebenar-benarnya absolut, relatif,
kapital, spiritual adalah diri kita. Sebenar-benarnya kita paham adalah pecah
diri menjadi dua. Maka belajar filsafat adalah mendaki gunung, ibarat mendaki
gunung gurumu, jika kamu sudah bisa mendaki maka kamu sudah mendapatkan restu.
Dalam hal ini pendakian yang dimaksud oleh dosen kami,
pak Marsigit adalah ketinggian ilmu dari guru kita. Ketika kita memilih untuk
belajar pada seorang guru maka kita telah siap mendaki gunung ilmu yang
menjulang. Namun untuk bisa sampai ke sana kamu membutuhkan restu mereka
sehingga ilmu itu bisa kamu daki pelan-pelan dan penuh kesabaran. Sulit rasanya
mencapai ketinggian gunung tersebut sebab kita dibatasi oleh waktu. Rentang
antara waktu dan lamanya gunung itu terbentuk sangat jauh sehingga butuh waktu
yang teramat panjang untuk belajar jika kita menginginkannya.
Demikian artikel ini tentang “Merangkum Filsafat dalam
Berbagai Pertanyaan”. Semoga sejumput tulisan ini bisa bermakna untuk kebaikan.
Aamiin








0 komentar:
Posting Komentar