RSS

Coretan Berdimensi Tentang “RUMAH EPOKE”

Pendidikan Matematika B bersama Prof Marsigit (Direktur Pascasarjana UNY)

Mata kuliah filsafat kali ini kami membahas tentang epoke. Menariknya bahasan epoke ini dikemas dalam penjelasan yang sederhana dan penuh humor oleh bapak Prof Marsigit, dan inilah yang membuat kami merasa, kuliah terasa lebih ringan (hehe 😁). Seperti kita tahu, pada umumnya filsafat itu bahasanya dalam dan cukup berat. Kata Prof Marsigit, disitulah peran filsafat adalah mengacaukan pikiran kita tapi jangan sampai mengacaukan hati. Namun sebenar-benarnya berfilsafat menurut prof yaitu mampu menyederhanakan hal yang sulit menjadi sederhana dan mudah dipahami.
Pada artikel ini saya berusaha menuliskan penjelasan prof marsigit namun tetap dibumbui dengan pemikiran-pemikiran saya yang sederhana. Perlu bagi saya untuk mengabadikan penjelasan beliau dalam bentuk tulisan, sebab ilmu itu liar, maka ikatlah ia dengan pena. Caranya dengan menulis. 😃
            Menurut beliau epoke adalah komponen, metode fenomenologi. Sadar atau tidak sadar manusia itu selalu menggunakan epoke, tapi hanya orang yang belajar filsafat yang menyadarinya. Jangankan manusia, ayam atau binatangpun menggunakan epoke. Ketika “aku” punya istri satu maka semua wanita yang lain “aku” masukan ke dalam epoke. Ketika “aku” menghadap selaltan maka semua yang ada di utara “aku” masukan ke dalam epoke, karena “aku” tidak bisa melihat apa yang ada di belakang. Dengan adanya epoke itu manusia bisa memilih dan bisa fokus terhadap apa yang dia pilih.
Disela penjelasan beliau, Habibullah ketua kelas pendidikan matematika B bertanya, “bedanya epoke dengan nomena apa pak?". Prof Marsigit menjawab, epoke bisa fenomena atau nomena. jadi saya hanya memikirkan orang-orang yang ada dihadapan saya. Ketika melempar jagung di atas kerikil-kerikil maka ayam hanya memilih jagung. Epoke itu sama dengan gudang penyimpanan. Maka epoke adalah bagian dari fenomenologi dan nomena. Intinya ada dua yaitu abstraksi dan idealisasi. Abstraksi memilih. Epoke itu ada dalam pikiran. Karena kita belajar filsafat, maka kita jadi mengerti. Kita itu antara mengerti dan tidak mengerti itu sangat sulit, jadi kita membutuhkan orang lain untuk memahami kita mengerti atau tidak. Tumbuh-tumbuhan juga memiliki epoke, ketika tumbuh di ruang gelap, maka dia pasti akan merambat mendekati cahaya matahari. Kalau anda sadar maka dimensimu sudah naik. Anda bisa memilih kegiatan dari banyaknya kegiatan. Kalau gak bisa menentukan pilihan maka akan kacau. Maka kamu harus cerdas menggunakan epoke. Kamu membuat satu pertanyaan dari sekian banyak potensi untuk bertanya ribuan pertanyaan. Maka pertanyaanmu adalah pilihan, dan ribuan pertanyaan yang berpotensi terpilih kamu masukan dalam epoke.
            Nah menarik bukan, penjelasan tentang epoke ini sejujurnya baru saya tahu sejak saya belajar filsafat. Saya sangat hobi membaca, bahkan waktu liburan pun lebih memilih menepi bersama buku baik fiksi atau nonfiksi. Namun tidak pernah menemukan kata “epoke”. Alhamdulillah sejak belajar filsafat dimensinya naik haha 😂 . Melalui prof saya mengerti apa itu epoke. Doakan saja semoga beliau terus sehat dan bisa terus menyalurkan ilmu bermanfaat kepada mahasiswanya.
            Bicara mengenai epoke, saya merasa hal ini sangat penting sekali untuk dipahami. Utamanya untuk semua orang dengan beragam profesi. Bahkan ibu rumah tangga saja harus memahami apa fungsi epoke. Misalnya seseorang yang berprofesi sebagai guru harus mampu memaksimalkan fungsi epoke ini ketika berada di dalam kelas. Kenapa? Bayangkan saja ketika dia tidak focus mengajar bagaimana mungkin bisa mengelola kelas dengan baik. Bagaimana bisa memberikan penilaian berdasarkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secraa objektif. Jika dia tidak menumpahkan perhatiannya secara penuh kepada masing-masing siswanya maka yang jadi korban adalah siswa itu sendiri. Padahal, mungkin saja saat sebelum masuk kelas atau menerima pelajaran, siswa sudah siap sepenuhnya dengan penjelasan gurunya.
            Apakah ini sekedar teori saja? :D Alhamdulillah saya pernah menyadari kelalaian tidak memaksimalkan fungsi epoke dengan baik saat mengajar dulu. Namun dari situlah muncul rasa bersalah. Jadi, saya adalah seorang aktivis forum lingkar pena (Komunitas Menulis) dan sedang mengadakan sebuah acara besar. Saya memegang peranan yang cukup penting dalam sebuah kepanitiaan. Namun di sela-sela kesibukan itu, saya pun punya tanggung jawab untuk mengajar di sekolah dengan porsi mengajar yang cukup banyak. Nah ketika sedang mengajar, saya harus terus berkoordinasi dengan forum panitia dalam sebuah grup whatsapp. Waktu dan pikiran saya jadi terbagi, kadangkala ada anak yang mendekati saya dan bertanya soal diskusi mereka yang cukup rumit untuk dikerjakan, namun saya tidak bisa melayani sebab sedang dibutuhkan oleh beberapa panitia dan harus berkomunikasi lewat telepon. Akhirnya siswa tersebut saya minta untuk menunggu dulu dalam waktu yang cukup lama. Ketika urusan sudah cukup selesai maka bisa dibayangkan betapa ributnya kelas. Diskusi menjadi sangat aktif dengan pembahasan di luar daripada materi yang diberikan. Anak-anak sibuk dengan obrolan masing-masing. Waktu menjadi tidak efektif, penjelasan materi menjadi tidak tuntas. Dan rencana pembelajaran juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Nah disinilah peran epoke sangat dibutuhkan, adalah menuntut kita untuk professional dalam tanggungjawab yang diemban. Sebab pilihan adalah tanggungjawab yang memiliki kepercayaan yang tinggi dari orang lain. Jika kita tidak amanah pada pilihan, maka kepercayaan orang kepada kita akan mengikis pelan-pelan tanpa disadari. Begitu pula para siswa tersebut. Mereka akan merasa gurunya tidak disiplin dalam mengajar sehingga tidak perlu terlalu serius dalam belajar atau kesiapan mereka akan berkurang kualitasnya ketika belajar di dalam kelas. Karena merasa gurunya tidak perhatian.
            Apakah epoke hanya berlaku untuk guru? Tentu tidak, kepada semua profesi itu harus dipegang baik-baik. Misal dokter, ketika sedang menangani pasiennya maka segala sesuatu yang dia ketahui selain apa yang menjadi kebutuhan pasiennya harus disimpan dalam epoke. Agar dia bisa mendiagnosis penyakit pasien dengan benar. Nah jika epoke tidak digunakan secara baik, maka ini akan merusak profesinya. Jika terjadi kesalahan dalam diagnosis karena tidak fokus, reputasi keahlian profesinya akan hancur. Dan otomatis banyak orang tidak akan percaya lagi padanya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Lebih parah dari itu jika pasien meninggal, ujung-ujungnya mendekap dalam penjara yang mengerikan.
            Kepada ibu rumah tangga pun demikian. Ketika sedang mengurus anak maka epoke harus digunakan secara baik. Jika tidak penuh perhatian, bisa fatal akibatnya. Mungkin si anak menuju dapur dan memasukan barang beracun ke dalam mulutnya karena belum mengerti benda tersebut. Atau kejadian mengerikan lainnya yang sulit dibayangkan.
            Untuk itulah kuliah filsafat ini, saya merasa seperti kuliah psikologi, bahkan sering merambat pada dimensi spiritual. Alhamdulillah, selain pikiran kita diberikan nutrisi yang cukup, jiwa kita juga dituntun dalam kebaikan yang sebenarnya. Beginilah keseruan kami belajar filsafat, kadang-kadang diikuti dengan tawa lepas disela-sela keseriusan kami mendengar penjelasan bapak prof.

Mohon maaf jika tulisan saya tidak formal, tapi memang sengaja dibuat seperti ini agar lebih mengalir dan mudah dicerna. Hehe semoga bermanfaat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

cici mengatakan...

Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny

Posting Komentar