RSS

PULANG

Tidak ada kata yang paling dirindukan bagi seorang perantau selain pulang. Ya pulang, kata yang menguatkan tekad ini untuk segera menyelesaikan studi di sini, di kota Yogyakarta. Apalagi jika harus mengingat ada ayah dan ibu yang menanti. Ada adik yang harus dijaga. Ada kakak-kakak yang ingin diajak diskusi tentang kebaikan.
Ibu...
Anakmu di sini sebenarnya memiliki banyak teman-teman terbaik. Sungguh tak berkekurangan cinta. Mereka selalu menebar hikmah, iman, cita, nasehaat, dan memekarkan tawa sepanjang bertemu. Meski tak luput segala ujian demi ujian juga menghentak dada, menguji kesabaran.
Ibu...
Jika ingin egois aku akan memperturutkan hati untuk tidak menerima amanah apapun dan fokus pada kuliah dan hafalan. Tapi aku tak kuasa menolak jika Allah sebagai alasan. Sejujurnya aku merasa kewalahan mengatur diri. Sejujurnya aku merasa diri ini sangat tak ada apa-apanya dibanding orang lain. Tapi siapa yang peduli. Di sini hampir tiap saat aku menangis sama Allah, meminta kekuatan dan kemudahan. Aku tak menyangka ternyata Allah memiliki rahasia ini untukku. Setelah sebelumnya aku tak bisa melanjutkan ke IPB, tidak lulus bebasiswa UPI, hampir kuliah di makassar, dan ragu mengambil UGM. Akhirnya memilih UNY yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Tak ada dalam bayanganku aku akan kuliah dikampus dengan slogan andalan"Takwa, Cendekia, dan Mandiri". Setelah setahun di sini aku baru mengerti, mengapa Allah memilih di UNY saja. Iya karena aku akan bertemu kader-kader terbaik yang memiliki ghirah dakwah yang kuat. Aku bersyukur mengenal dan memiliki mereka karenaNYA.
Ibu...
Jika aku mengukur kemampuan diri, aku gak berani mengatakan bahwa aku akan lulus kuliah tepat waktu. Semakin aku belajar di sini aku merasa seperti orang paling miskin sekampus UNY karena tak tahu apa-apa. Ya, dibandingkan aku, teman-teman yang lain memiliki keingin belajar yang sangat tinggi. Aku sejujurnya sangat malu sebagai penenrima beasiswa paling prestisius di Indonesia tapi aku belum mampu memberikan yang terbaik untuk negara, untuk lembaga beasiswa, untuk ibu, dan untuk aku sendiri.
Tapi aku hanya mampu memelas dada. Hanya Allah tempat paling nyaman buat menumpahkan segala resah yang tersemat di hati. Entah kenapa, ngobrol sama Allah sampai nangis sesenggukan membuat aku setelahnya plong dan lebih lapang. Aku merasa segala beban seperti terangkat dan aku merasa tak butuh siapa-siapa lagi.
Ibu...sayang...
Maafkan jika hingga kini anakmu masih menjomblo hehe. Rasanya sedih setiap ibu nanya "Udah temukan seseorang di jogja?". Ibu, aku berdoa kepada Allah sampai waktu ditetapkan tepat dan aku telah siap, semoga tak ada seorangpun yang membuat hatiku condong teramat besar. Kalaupun memang ibu menginginkannya, aku gak punya rasa percaya diri yang tinggi untuk memiliki rasa sedikitpun kepada seseorang di kota jogja ini. Aku merasa dengan kehinaan diriku tak pantas untuk orang-orang sebaik dan se-sholeh mereka.Setiap kali membayangkan siapa jodohku, aku pasti akan merasa lelah sendiri karena membayangkan hal yang abstrak itu berat. Mungkin karena aku mengambil mata kuliah aljabar abstrak yang membuat kepalaku sering merasa pening hehe.
Ibu...
Mungkin saja jodohku adalah orang yang tak pernah sekalipun bertemu apalagi bertatap. Mungkin saja di pijakan bumi yang lain. Atau mungkin sedaerah denganku. Atau orang paling dekat denganku. Gak tahu bu, tapi yang jelas aku merasa seperti hambaNya yang miskin segalanya, masih sangat kurang, masih sangat hina, masih sering salah, masih belum mampu menjadi Hamba-Nya yang terbaik, untuk Allah... untuk Allah... untuk Allah yang aku selalu mengatakan pada Allah "AKu mencintaiMu yaa Rabb" tapi maafkan aku selama ini masih jadi hamba yang malas, hamba yang lemah, hamba yang dzalim pada diri sendiri dan orang lain. Hamba yang belum mampu memberikan ketaatan terbaik.
Ibu...
Hari ini tubuhku mulai demam, semoga aku gak sakit aamiin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar