REFLEKSI
II MATA KULIAH FILSAFAT
Oleh
PROF. DR. Marsigit, M.A
Akhir zaman jika dianalogikan dalam perspektif ikan kecil, maka kita yang belajar filsafat seperti ikan kecil yang masih diberi kesempatan berikhtiar mencari air segar kehidupan. Sebab banyak polusi-polusi yang merusak kehidupan ekosisitem ikan. Artinya kehidupan mengalami disorientasi, radikalisme, dan sebagainya. Mengapa disorientasi? Karena filsafat saat ini dikenal sebagai filsafat bahasa atau analitik. Maka hidup kita adalah bahasa. Dan sebenar-benarnya bahasa adalah kata-kata kita sendiri. Pun sebenar-benarnya diri adalah apa yang kita tulis. Maka hati-hati terhadap plagiat, karena diri kita itulah sebenar-benarnya plagiat.
Jika isme itu adalah
pusat, Maka humanisme adalah pusat manusia. Ini sangat berbahaya, sebab
Tuhannya dimana? Itulah makna humanisme dalam filsafat. Berbeda dengan
psikologi, yang mengandung arti kemanusiaan. Pada awal zaman yang dikenal filsafat alam, saat itu orang masih
heran tentang hakikat dirinya yang terbuat dari apa. Maka semua isme itu
lahirnya dikarenakan obyeknya. Misalnya Langit dan buminya. Maka sebenar-benar
ilmu adaah langit bertemu bumi dan bumi menggapai langit. Plurarisme adalah
filsafat yang menggambarkan keadaan di bumi. Dan apapun di langit sifatnya
monoisme. Sehingga yang lebih tinggi dari monoisme disebut idealisme. Hal ini
pun sifatnya absolutism. Dan sebenar-benar yang ada dilangit adalah prinsip,
kalau yang dibumi bersifat relatif. Begitu pun sebenar-benarnya aku dan dirimu
adalah prinsip. Prinsip itu tidak lain dan tidak bukan adalah resep. Dalam arti
sederhana, istriku yang ada di langit hanya satu. Tetapi di bumi bersifat
mutlak. Semua yang ada dan mungkin ada itu cuma satu atau bisa disebut monoisme.
Jika spiritual turun ke
logika maka di sebut pikir. Karena filsafat itu adalah olah pikir. Maka setinggi-tinggi
pikiran harus didasari oleh doa. Dan sebenar-benarnya hidup adalah pikirkan
kenyataanmu dan wujudkanlah pikiranmu. Maka olah pikir bersifat logos atau
logis. Kenyataan bersifat realis. Ada plato dan dibawah tokohnya aristoteles
ata disebut Aristoteliansi. Maka bagi seorang plato, ilmu itu sudah selesai.
Semua sudah dicipta. Matematika sudah ada. Misalnya Semuanya sudah punya jodoh
masing-masing, hanya kamu mampu menemukan atau tidak. Takdirnya sudah ada. Maka
sebenar-benar ilmu adalah logika. Tetapi muridnya plato tidak setuju yaitu Aristoteles,
karena sebenar-benarnya ilmu adalah kenyataan, pengalaman.
Yang dibumi prinsipnya
kontradiksi. Identitas itu A = A. Kenyataan itu kontradiksi. Misalnya Sebenar-benarnya
yang terjadi adalah bahwa aku tidak mampu menunjuk diriku karena sebelum aku
selesai menunjuk diriku maka aku sudah berubah. Bumi itu terikat ruang dan
waktu. Jadi 2 = 2 hanya ada di pikiran. A = A artinya diriku sama dengan
diriku. Dan hanyalah Tuhan yang mampu menjadi dirinya sendiri.
Semua matematika hanya
pengadaian. Misalnya diketahui lancip. Sebenar-benarnya lancip hanya ada di
pikiran. Sudut lancip itu adalah sudut yang lebih kecil dari 90o.
Namun tidak ada di dunia ini yang berbentuk lancip. Sebab selancip apapun tetap
membentuk molekul. Bayangkan kalau atom itu lancip, maka semua yang di bumi
mengalami kelancipan. Untuk itulah lancip diabstraksi atau fenomenologi dengan
pikiran yang bersifat logis.
Logis bersifat
analitik. Kenyataan bersifat sintetik. Bahasa juga ada di pikiran. Kalau bahasa
di bumi seperti dua buah batu yang sedang bercinta. Artinya ada dua cincin yang
kita pakai dengan pasangan. Lalu pergi ke taman. Cincin kemudian dibalut cat
fosfor. Semua lampu dimatikan. Dan kita berlari-larian. Pasti terlihat hanya ada
dua buah batu yang saling bercinta. Lalu dihubungkan dengan teknologi video
maka muncul dilayar warna hitam dengan cincin berlarian. Jadi, Analitik itu yang
penting logis. Maka logis tidak perlu melihat kenyataan. Untuk itulah orang
matematika mudah buat buku. Mungkin bisa dimulai dari definisi, aksioma,
teorema satu dan sebagianya. Logis itu artinya konsisiten. Tergantung
matematinya kokoh atau tidak. Valid, dapat dipercaya. Antara teorema yang satu
1 dan 2 tidak saling bertentangan atau konsisten. Maka kontradiksinya
matematika adalah tidak konsisten. Beda dengan kontradiksinya kenyataan adalah
identitas. Maka untuk memahami tulisan, memahami bahasa kita pakai intuisi.
Misalnya jika aku melihat engkau maka engkau masih ingat benar kapan pertama
kali aku masuk. Begitupun engkau masih ingat kalimat pertama yang aku ucapkan.
Maka itulah intuisi, alat untuk belajar.
Sebenar-benar hidup
kita adalah terbatas pada ketidakterbatasan. Pikiran bersifat priori. Sedangkan
kenyataan bersifat posteriori, paham setelah mengalami. Jika diturunkan kepada
kehidupan kucing disebut posteriori. Misalnya kucing menyadari adanya tikus
setelah ia bisa melihat. Itulah dunia anak kecil. Jika kita menjelaskan kepada anak
kecil dengan bahasa orang dewasa, maka intuisinya akan hancur. Bila intuisi
hancur, anak akan kehilangan empati. Hasilnya, ketika remaja dia suka tawuran,
bisa melawan gurunya, menjadi koruptor dan sebagainya.
Rasionalisme ditambah
dengan skeptisisme. Maka pikiran bisa bersifat skeptis yaitu akan mempertanyakan
segala hal. Itulah menurut Descartes aliran rasionalisme. Maka Descartes punya
teori, tiadalah ilmu kalau tidak berlandaskan rasio. Tapi David Hume atau
muridnya Descartes membantah Tiadalah ilmu kalau tidak berdasarkan pengalaman
atau empirisme. Imanuel kant mengatakan Descartes benar tapi mengabaikan
pengalaman, David Hume benar tapi terlalu mengabaikan logika dan men-Tuhankan
pengalaman. Maka dari Descartes kita ambil apriorinya, dan dari muridnya kita
ambil posteriorinya.
Sebenar-benar ilmu
adalah sintetik apriori. Menurut Imannuel Kant matematika itu bukan ilmuwan
tapi pemimpi. Dahulu kebenaran didominasi oleh gereja. Karena gereja punya
pendapat. Siapa pun orangnya tidak bisa mengutarakan kebenaran kalau tidak dapat
restu gereja. Jika melanggar dianggap menghianati gereja dan bisa ditahan
hingga dibunuh. Kemudian muncul namanya geosentris, yakni semua ilmu semesta
pusatnya di bumi. Seakan-akan bumi itu bunda maria. Lalu muncul Copernicus yang
membantah teori geosentris melalui heliosentris, bukan bumi yang menjadi pusat
tapi matahari. Bumi dan bulan semuanya bergerak mengelilingi matahari. Sampai
sekarang Apolo muncul, lalu Amerika muncul dengan teorinya heliosentris.
Tahun 1857, kalau kita
membangun dunia menurut aguste comte agama itu tidak dipakai. Karena agama itu
tidak logis. Baru kemudian diatasnya ada filsafat. Diatasnya ada
post-positifisme. Positif itu saintifik. Saintifik itu munculnya dengan memarginalkan
agama. Comte Mewajibkan seluruh siswa menggunakan metode saintifik. Tapi corp
mengutuk aguste comte karena agama dimarginalkan maka muncullah post-post
modern. Berdasarkan tingkatannya mulai dari archae atau manusia batu, frebal, tradisional,
feudal, modern, dan terakhir post modern atau dunia kontemporer. Sementara Indonesia
dulu dan sekarang berlandaskan pancasila dengan prinsip materialisme ,
formalisme, normatif bagian filsafat dan terakhir spiritualisme. Banyak hal-hal
di dunia ini yang tidak sesuai misalnya banyak terjadinya perkosaan, korupsi,
dan sebagainya, karena agama tidak terletak di paling dasar kehidupan. Maka
sebenar-benar isme itu adalah modus dan filsafat itu modus.








1 komentar:
Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny
Posting Komentar