Ia benamkan wajahnya di antara sepasang telapak tangan yang tengadah ke atas. Derasnya kalimat yang mengalir, terus ia muntahkan lewat bahasa hati. Sementara Bibirnya masih terus terkatup dan kaku. Tak ada gerakan apalagi kerutan tipis. Namun siapa yang menyangka, di antara bisunya sebuah do’a, telah mengalir setitik air dari riak matanya. Lantas perlahan, jari-jari lentiknya mulai merambat dan mendarat di pipi. Sembari menyembunyikan bekas-bekas garis basah di wajah. Di antara hajat yang ia panjatkan untuk kebaikan akhirat, ia meminta agar dicukupkan rezeki untuk dapat menabung setahun lagi untuk bisa lanjut studi magister tahun depan. Kedatangan surat penerimaan dari sebuah kampus ternama di negerinya yang menyatakan ia lulus beberapa hari yang lalu, seolah semakin menguatkan azzamnya untuk lebih keras dalam ikhtiar.
“Kalau bisa menabung sebulan satu juta, pasti cukup untuk berangkat S2 di semester pertama tahun depan. Jadi tidak perlu membebani ayah dan ibu. Selain itu, Aku juga bisa mempersiapkan diri untuk seleksi beasiswa. Alhamdulillah, tidak apa-apa menunggu setahun lagi. Tapi, honor dari lembaga bimbingan belajar dan les privat hanya pas sejuta, mungkin juga kurang. Belum biaya hidup sebulan. Bagaimana bisa menabung sejuta?” Ia masih termenung, seraya melipat kaki di atas sejadah merah dengan ornamen kubah mesjid. Lantas hatinya berbisik lagi.
“Ah, bismillah! Niat yang baik, pasti akan menemukan jalan-jalan kebaikan dari-Nya”
Usai shalat maghrib, Ia kemudian bergabung kembali dalam rapat pengurus salimah. Seorang ibu paruh baya yang kerap disapa ibu ersi, membuka rapat dengan hikmah. Sambil mendengar pemaparan laporan kegiatan selama bulan ramadhan kemarin, sesekali ia melirik jarum jam.
“Tiga puluh menit lagi!” Selorohnya dalam hati.
“Dua puluh menit lagi!” Saking khusyuknya mendengar pemaparan laporan seorang ibu muda, tak lama ia tersentak kecil. Suara itu terdengar oleh seorang dokter wanita muda disebelahnya.
“Kenapa?” Tanya dokter itu dengan gurat wajah serius.
“Maaf bu, lima menit lagi saya harus masuk kelas. Mau ngajar les bu” Jawabnya sambil mengemas buku ke dalam tas.
“Oh iya, tidak apa-apa”
Setelah pamit pada beberapa pengurus salimah dan tentunya ketua pengurus salimah wilayah yang akrab disapa ibu Nita, dengan langkah cepat ia keluar ruangan. Kebetulan lokasi sekretariat salimah berada tepat di dalam gedung Butik Rabbani. Hanya beberapa langkah ia telah tiba di tempat parkir. Alangkah terkejutnya ia saat memasang sebatang kunci motor dengan asessoris boneka lumba-lumba biru, tiba-tiba terdengar gemuruh seperti hujaman peluru di atas genteng. Sangat keras bak irama selaras yang saling bersahut-sahutan. Sontak langkahnya terhenti.
“MasyaAllah hujan!” Lirihnya dalam hati. Ia kembali melirik arloji di tangannya.
“Tiga menit lagi. Tugas ngajar adalah tanggung jawab. Bagaimana ini? kalau nekat, bisa parah. Padahal kemarin baru sakit. Ini juga masih sedikit terasa demamnya. Aduh, Bagaimana ya? apa terobos saja? Tidak ada jalan lain.” Baru sebentar ia akan menyalakan motornya, seorang gadis berjilbab lebar menyahut.
“Kak Vina, mau kemana? Hujan kak. Deras sekali. Bisa basah nanti”
“Mau ngajar dek. Ini udah jam 7.45. Ana harus ngajar sekarang. Udah telat dek”
“MasyaAllah, hujannya benar-benar keras. Tunggu sebentar saja sampai reda sedikit. Katanya kak sakit. Nanti tambah parah. Tidak masalah telat kak, pihak lembaga pasti paham.” Nampak kecemasan di wajah gadis itu.
“Tapi ana pasti terlambat”
“Coba dengar dulu kak, mungkin saja ini teguran dari Allah”
“Yestin benar”. Vina mencoba mengalah. Apalagi kalau sudah disebut-sebut nama Allah, Vina tidak berani berkilah. Namun tetap nampak rasa takut dan cemas dalam hatinya. Bukan karena teguran keras dari pihak lembaga karena tidak disiplin. Tapi lebih kepada kontrak perjanjian bayaran untuk setiap jam mengajar. Baginya setiap nominal waktu, telah terjabar nominal rupiah yang dibayarkan oleh pihak lembaga. Hingga secara matematis, setiap satu ketukan detikpun terhitung rupiah. Maka menurutnya terlambat lima menit berarti ia telah melakukan korupsi untuk nominal yang setara lima menit. Apalagi lembaga bimbingan belajar Graha Cendekia yang di asuh oleh Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia itu sangat tinggi menjunjung sikap disiplin.
Vina mendengus nafas pelan-pelan. Jiwanya tak karuan. Sejenak pandangannya beredar liar pada derai hujan yang bergejolak. Badai angin yang berhembus kencang ikut mempermainkan patahan-patahan air seperti batangan jarum bening yang menghujam tanah. Gerakannya tak beraturan dan seolah patuh pada titah angin. Hembusan itu memberisikkan daun-daun. Ranting-ranting bergesekan, dan ada yang berbunyi berciutan. Beberapa daun kalah bertahan di ranting tua dan gugur berserakan di tanah basah. Banyak kenderaan nampak lalu lalang dengan kecepatan standar. Beberapa bentor lewat dengan membawa penumpang di dalamnya.
“Naik Bentor” Pekiknya dalam hati.
“De, ana naik bentor saja. Motor ana titip di sini ya”
“Oh, iya kak” Ujar yestin mengangguk. Sambil menunggu bentor kosong lewat, dua wanita menghela pintu keluar. Vina mengenal wanita berjilbab merah. Sepertinya wanita itu istri pak Rafli, guru biologinya saat SMA. Ia ingin menegur, tapi rasanya kedua wanita itu sibuk berceloteh.
“Hujan lagi, padahal suami udah nunggu di rumah makan padang mbak. Kita mau rayakan hari pernikahan kita.” Ada kata “lagi” dari wanita berjilbab merah yang sedikit menarik perhatian vina.
“Wah romantis sekali. Tapi benar mbak, belakangan hujan terus ya. kainku jadi tidak kering-kering dijemuran. Giliran kering, bau apek.” Wanita disebelahnya menimpali.
“Iya. Aduh, hujan berhenti dulu dong” wanita berjilbab merah nampak panik. Sesekali ia mondar-mandir sambil merapatkan telepon genggam di telinganya. Vina hanya mengamati. Ia tahu, saat seseorang sedang terburu-buru, kadang sering tak sengaja melontarkan kata-kata yang mirip seperti itu. Tanpa sadar mereka lupa telah mengeluh akan nikmat hujan yang sedemikian menyimpan rahasia yang besar. Setelah kemarin panas cukup menyengat sepanjang hari, kekeringan dimana-mana, kemudian Allah ganti dengan tetesan hujan yang membawa Rahmat dan kemurahan-Nya. Bahkan para sahabat pernah meminta Rasulullah berdo’a untuk mereka agar Allah menurunkan hujan karena harta binasa dan keluarga mereka kelaparan. Akhirnya Rasulullah berdo’a tiga kali dan turunlah hujan selama seminggu. Meskipun tak jarang bila telah berlebihan menyebabkan banjir bandang di beberapa pelosok daerah. Tapi kata Allah, sesungguhnya nikmat datang dari-Ku dan musibah datang dari ulah tangan manusia sendiri. Seperti kata Allah dalam Al-Qur’an surah An-nisaa ayat 102, jika kita mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kita memang sakit, dan bersiap siagalah kita. Sesungguhnya Allah telah menyiapkan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kafir itu. Maka patutlah kita yang harus introspeksi diri. Untuk itulah kita dianjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah. Selain itu, setiap ucapan, baik yang bernilai dosa atau bernilai pahala, semua akan masuk dalam catatan malaikat. Dan mencela hujan, berarti mencela penciptanya, Allah, Tuhan pengatur jagat raya.
Mengingat hal itu vina bersyukur dan tersenyum. Ia kemudian berdo’a semoga hujan yang turun adalah yang baik, bermanfaat, dan para petani bisa sejahtera. Sebab salah satu doa yang tidak akan ditolak yaitu saat hujan turun. Dan yang paling diuntungkan adalah para petani. Sebagaimana mata pencaharian para penduduk gorontalo sebagian besar adalah petani.
Malam begitu terasa dingin. Sembari memandang setiap rintik-rintik karunia alam itu. Atap-atap penduduk mengalirkan air karena hujan yang turun dengan lebat. Vina teringat lagi sabda Rasulullah yang memberikan perumpamaan petunjuk dan ilmu seperti hujan yang lebat. Tiba-tiba lamunannya buyar ketika sebuah bentor kosong lewat. Ia berteriak.
“Bentooooorrrr” Kenderaan roda tiga itu berhenti tepat di depannya. Terlihat seorang bapak-bapak tua kurus dengan rambut ikalnya yang basah. Di dagunya tumbuh jenggot lebat yang ujung-ujungnya mengalir tetesan-tetesan air. Kaus hitam lengan panjang ikut basah kuyup. Semuanya basah. Vina segera masuk ke dalam bentor.
“Pak graha cendekia ya” Hanya kata “Iya” yang keluar dari bibir bapak tua itu. Vina memperkirakan umurnya yang hampir setengah abad. Ia tertegun melihat sang bapak. Box Bentor yang ia tumpangi cukup melindunginya dari serangan hujan, namun sebenarnya hatinya ikut basah dan kasihan. Ada rasa sayang dan simpatik menyatu padu. Dari dulu ia selalu bangga melihat kegigihan para tukang bentor. Bagaimana tidak? Saat musim hujan seperti ini, merekalah yang paling berjasa terhadap masyarakat. Deras dan dingginnya tak menghalangi mereka untuk menawarkan jasa. Mereka rela kehujanan untuk mengantarkan para penumpang sampai ke tempat tujuan. Harga yang mereka tawarkan tetap sama seperti ketika tak ada hujan.
Apalagi tubuh bapak itu begitu kurus. Tentu lebih rentang penyakit flu daripada yang tubuhnya besar. Sistem kekebalan tubuh orang yang kurus lebih rendah, karena zat lemak yang berfungsi sebagai bantalan di lapisan kulit agak tipis. Sehingga akan mudah sakit. Hati vina penuh rasa iba. Demi mencari nafkah halal, mereka berani menerjang badai. Seolah tubuh mereka terbuat dari baja, kuat dan kedap air.
Hanya lima menit ia telah sampai di Graha Cendekia. Ia merogoh uang di dalam saku tasnya. Dan ia dapati ternyata uangnya hanya tinggal Rp.8000. Ada potongan lembar Rp 5000 dan dua lembar lagi Rp. 2000 dan Rp.1000. Sebenarnya bayaran untuk jarak dari Rabbani dan Graha Cendekia hanya Rp. 3.000. Tanpa pertimbangan ia serahkan uang Rp. 5000 dan berlalu pergi setelah mengucapkan terima kasih. Dalam hati, meskipun hanya kelebihan Rp.2000, semoga cukup untuk segelas kopi hangat dan ia pun berdo’a agar bapak itu selalu diberikan nikmat sehat.
***
Usai mengajar ia dipanggil oleh penanggungjawab lembaga. Ada perasaan was-was dalam hatinya. Namun sebenarnya ia telah siap jika harus di beri teguran keras.
“Bu vina”
“Iya kak”
“Bu Vina bisa?”
“Oh iya, kak bisa... bisa, insyaAllah besok-besok saya tidak terlambat lagi. Dan bisa lebih disiplin. Maaf kak yaa” Vina memelas. Jantungnya berdegub kencang. Pekerjaan ini penting baginya. Jika ia harus dikeluarkan, akan sulit mencari pekerjaan lagi yang cocok dengan selera hati.
“Tidak bu vina, bukan itu.” Wanita dewasa di depannya tersenyum sangat ramah.
“Terus apa kak?”
“Ibu vina bisa mengajar privat untuk dua orang lagi?”
“Subhanallah, bisa kak!” Vina terharu dan takjub. Baru saja ia berdo’a dimudahkan rezeki untuk menabung, tiba-tiba Allah memberi rezeki lewat tambahan jam mengajar. Hatinya diliputi oleh perasaan bahagia. Sedekahnya Rp. 2000 karena bapak yang kehujanan tadi dilipat gandakan senilai gaji privat untuk dua orang. Maha pemurah Allah melalui hujan dan sedekah yang mendatangkan berkah.
***
Vina pulang dengan rasa syukur yang dalam. Masih seratus meter jarak dari rumahnya,ia tercengang menyaksikan kondisi sebuah rumah penduduk yang kerumuni masyarakat hingga memenuhi jalanan. Bagian dapur rumah itu nampak gosong. Parahnya lagi, ia sangat kenal dengan pemilik rumah. Nampak oleh matanya, seorang wanita menggunakan jilbab merah sedang duduk menangis di pelukan seorang pria. Pria itu adalah pak Rafli dan wanita dipelukannya adalah istrinya yang ia lihat saat di Rabbani. Vina ikut merasa sedih. Tak sadar ia mendengar perbincangan orang-orang disampingnya.
“Untung ya, waktu gasnya meledak, tak lama tiba-tiba hujan turun deras sekali. Kalau tidak, terlambat lima belas menit saja, si jago merah sudah melahap seisi rumah”.
Subhanalah, Inilah rahasia besarnya Allah. Siapa yang tak angkuh karena berdo’a akan diperkenankan hajatnya. Siapa yang beramal dengan niat yang baik akan dilipat gandakan kebaikannya. Siapa yang bersyukur kepada Allah akan ditambahkan nikmatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah luqman ayat 12.
“Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji”
“Hujan diturunkan kepada kami dengan karunia dan rahmat-Nya” (HR. Bukhari nomor 1038, Muslim nomor 71).
Imam An Nawawi dalam Al Adzkar (1/182) juga berkata, “Dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah atas curahan nikmat ini, yaitu nikmat diturunkannya hujan.”
Mahasuci Allah, dimana alam, hujan dan petir bertasbih dengan memuji-Nya.









0 komentar:
Posting Komentar