"Kak nova" begitu aku menyapanya. Saat pertama kali kita bertemu di tempat pengajian dia menyapaku.
"Yolpin ya, adiknya yulan?", kaget kok bisa wanita asing ini menyebut nama kakakku. Sejak saat itu kita banyak ngobrol. Dari wajahnya aku mengira-ngira beliau usia 30-an. Seorang akhwat tegar diusia sekian belumlah menikah.
Tadi malam aku dibuat terharu ketika undangan nikah tersebar. Itu kak nova dengan calon suaminya adalah tetangga tepat di samping rumahku. Proses hijrah kak nova dipertemukan dengan keluarga yang hanif dari calon suaminya. Insyaa Allah mereka bertemu di titiik paling terbaik dalam hidupnya. Penantian yang sangat panjang ini bagi seorang wanita begitu sangat tak mudah. Untuk menjaga dirinya dari apa yang Allah haramkan harus melewati pergulatan batin yang sangat hebat. Betapa kesabaran itu tak sia-sia, selalu menemukan manisnya kebaikan di akhir.
Aku tersenyum saat menatap layar ponsel. Sembari mengingat-ngingat kisah kemarin. Bagaimana prosesku juga tak mudah. Banyak air mata yang tumpah. Kesabaran itu duji ketika dibenturkan oleh idealisme untuk menemukan orang yang sevisi misi di jalan dakwah dan siap dengan kondisi kita. Adapun orang yang kita harapkan sesuai dengan kriteria kita justru banyak sekali rintangan. Prosesnya selalu gagal berkali-kali.
Aku harus menentukan sikap untuk tetap menjalani hari-hari dengan baik. Meski sebenarnya proses gagal itu menyisakan duka yang berlarut-larut. Berbulan-bulan harusnya tesisku sudah selesai, tapi aku masih terpaku dengan perasaan. Berat rasanya untuk melanjutkan perjuaangan akhir studi.
Jika terus-terusan begini, akulah yang akan sangat dirugikan. Waktu terus berjalan menuntut banyak tanggungjawab yang harus segera kita selesaikan. Ada banyak hal bermaanfaat yang harus kita kerjakan. Ada banyak mimpi yang harus dikejar. Ada banyak ilmu kebaikan yang harus dipelajari. Ada banyak orang yang menanti kontribusi-kontribusi besar kita untuk agama ini. Maka bersemangatlah menjalani hari-hari. Jangan terlalu lama dirundung duka. Seolah-seolah kitalah yang paling nelangsa. Banyak kebaikaan yang bisa kita lakukan untuk mengalihkan perasaan dan hal-hal tidak penting. Hidup ini lebih bernilai ketika kita banyak memberi manfaat.
Semangat pino :), ayooo selesaaikan tesismu...
"Yolpin ya, adiknya yulan?", kaget kok bisa wanita asing ini menyebut nama kakakku. Sejak saat itu kita banyak ngobrol. Dari wajahnya aku mengira-ngira beliau usia 30-an. Seorang akhwat tegar diusia sekian belumlah menikah.
Tadi malam aku dibuat terharu ketika undangan nikah tersebar. Itu kak nova dengan calon suaminya adalah tetangga tepat di samping rumahku. Proses hijrah kak nova dipertemukan dengan keluarga yang hanif dari calon suaminya. Insyaa Allah mereka bertemu di titiik paling terbaik dalam hidupnya. Penantian yang sangat panjang ini bagi seorang wanita begitu sangat tak mudah. Untuk menjaga dirinya dari apa yang Allah haramkan harus melewati pergulatan batin yang sangat hebat. Betapa kesabaran itu tak sia-sia, selalu menemukan manisnya kebaikan di akhir.
Aku tersenyum saat menatap layar ponsel. Sembari mengingat-ngingat kisah kemarin. Bagaimana prosesku juga tak mudah. Banyak air mata yang tumpah. Kesabaran itu duji ketika dibenturkan oleh idealisme untuk menemukan orang yang sevisi misi di jalan dakwah dan siap dengan kondisi kita. Adapun orang yang kita harapkan sesuai dengan kriteria kita justru banyak sekali rintangan. Prosesnya selalu gagal berkali-kali.
Aku harus menentukan sikap untuk tetap menjalani hari-hari dengan baik. Meski sebenarnya proses gagal itu menyisakan duka yang berlarut-larut. Berbulan-bulan harusnya tesisku sudah selesai, tapi aku masih terpaku dengan perasaan. Berat rasanya untuk melanjutkan perjuaangan akhir studi.
Jika terus-terusan begini, akulah yang akan sangat dirugikan. Waktu terus berjalan menuntut banyak tanggungjawab yang harus segera kita selesaikan. Ada banyak hal bermaanfaat yang harus kita kerjakan. Ada banyak mimpi yang harus dikejar. Ada banyak ilmu kebaikan yang harus dipelajari. Ada banyak orang yang menanti kontribusi-kontribusi besar kita untuk agama ini. Maka bersemangatlah menjalani hari-hari. Jangan terlalu lama dirundung duka. Seolah-seolah kitalah yang paling nelangsa. Banyak kebaikaan yang bisa kita lakukan untuk mengalihkan perasaan dan hal-hal tidak penting. Hidup ini lebih bernilai ketika kita banyak memberi manfaat.
Semangat pino :), ayooo selesaaikan tesismu...








0 komentar:
Posting Komentar